Showing posts with label PUBLISHING IIIA 2017. Show all posts
Showing posts with label PUBLISHING IIIA 2017. Show all posts

Monday, October 30, 2017

Cita Rasa Leker Pak Hanan

Photo By : Ira Mahmuda
Kue leker merupakan salah satu jajanan tradisional dari kota Solo. Kue leker ini memiliki cita rasa manis. Bentuk kue ini mirip seperti crepes, oleh sebab itu kue leker disebut sebagai crepesnya kota Solo. Asal mula dinamakan “Kue Leker” karena pada zaman dahulu orang-orang Belanda yang berada di Solo sangat gemar memakan kue ini. Karena rasanya yang enak, maka mereka menyebutnya sebagai Kue Lekker/Kue Lecker. Kata “Lekker” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “enak”. Jadi, orang-orang Belanda sering menyebutnya dengan Lekker, maka orang-orang pribumi pun menamainya “Kue Leker” (Kue Enak) sampai saat ini.
Kue leker hampir mirip crepes namun kue leker lebih lembut di bagian dalamnya. Sebenarnya leker bisa diolah dengan banyak variasi rasa seperti kue crepes yang sudah banyak dijumpai di mal-mal. Perancis boleh punya crepes sebagai ikon kulinernya, tapi Solo juga punya kue leker yang tidak kalah rasanya.
Salah satu sekolah di kawasan komplek militer Srengseng Sawah Jakarta Selatan, ada beberapa pedagang makanan maupun minuman yang sudah berjejer di depan gerbang sekolah tersebut. Salah satunya pedagang leker yang berada di sudut bawah pepohonan, dengan sepeda yang sudah dimodifikasinya. Pedagang leker yang selalu ramai dengan anak sekolah ini bernama Pak Hanan. Lelaki dengan sedikit jenggot berwarna putih miliknya sudah menjadi pedagang leker selama dua tahun di sekolah tersebut. Beliau biasa berjualan sekitar jam 8:30 – 16:00 sore. Sebelum berjualan leker ini, beliau juga pernah berjualan cilok. Ketika di tahun 2005 leker ini mulai dikenal, dan beliau baru memutuskan untuk beralih profesi menjadi pedagang leker di tahun 2015.
Penghasilan yang didapat dalam sehari berkisar Rp 350.000. Leker yang beliau jual dengan berbagai rasa: pisang, keju, blueberry, dan coklat. Harga untuk sepotong leker ini biasanya berkisar antara Rp 2000 – Rp 3500. Alat yang digunakan untuk membuat leker cukup unik dan sudah dimodifikasinya, yaitu menggunakan sebuah wajan kecil berbentuk lingkaran, wajan ini bisa berputar apabila tuasnya digerakkan, agar leker tersebut bisa matang merata. Sumber pemanas yang digunakan berupa kompor gas bertungku satu. Jika Anda menjumpai pak Hanan ini jangan lupa untuk membeli lekernya. Harga jelata citarasa Belanda.(Penulis : Irah Mahmuda/PNB3A/2017)

Rumah Makan Sederhana tapi Menggugah Selera

Photo By: Ester Ajeng Budi Kirana

Siapa yang nggak tergoda lidahnya jika menghirup aroma masakan padang sederhana? Melihat dari etalasenya aja udah ngiler. Uh, mantap!

Sebelum bahas ke masakannya, cekidot dulu nih dengan si ibu penjualnya.

Wanita yang bisa dibilang masih muda itu, kian hari menjajakan masakan padang di pinggir jalan. Tepatnya di Jalan Margonda Raya, Depok, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat. Sebelahan dengan Plaza Depok. Cukup ramai pembeli ketika saya telusuri kondisi saat di sana. Mungkin karena harganya yang tidak banyak merogoh kocek juga. Ibu itu nggak sebatang kara berjualan, ia didampingi putrinya. Jam dibuka rumah padang kecil-kecilannya itu menjelang senja hingga sekitar pukul 21:00. Betapa gigih dan kompaknya ibu serta anaknya yang berbakti tersebut. Zaman sekarang kalangan remaja udah nggak banyak masih punya rasa iba dengan anggota keluarganya. Malahan asik dengan dunia foya-foyanya ketimbang harus membantu orang tua.

Balik lagi ke topik kulinernya, nih! Cerita singkat di atas hanya sebatas motivasi sederhana saja yang kalian bisa ambil hikmahnya.

Dapatkah kalian menyebutkan menu masakan padang apa saja yang sering jadi bahan ‘pamer’ si uda atau uni? Pasti yang paling pertama diucap yakni rendang. Masakan padang yang satu ini sangat dikenal oleh masyarakat umum. Cita rasa rempah gurihya yang jadi daya tarik kenikmatan daging yang ditaburi kelapa parut halus di atasnya. Selain rendang, ada menu lainnya yang menggugah selera. Misalnya, ayam bakar, ayam sayur, dendeng balado, gulai kikil, kalio cumi, perkedel, gulai kepala kakap, dan ikan bakar.

Oh iya, adakah yang sudah pernah makan menu ayam pop? Atau bahkan belum tau ayam pop seperti apa? Jadi, ayam pop adalah ayam tanpa kulit yang direbus menggunakan campuran bawang putih, jeruk nipis, serai, garam, dan ketika siap dihidangkan cocok banget makannya dalam keadaan nasi hangat.

Apapun sepiring pesanan lauk pembeli, nggak jauh-jauh identik pada lembaran daun singkong hijau, ditambah guyuran sayur nangka muda dan si pedas sambal ijo. Di Pulau Jawa, daun singkong dan gulai nangka tak dapat dipisahkan jika membeli nasi padang dibungkus atau makan di tempat. Dua menu tersebut menjadi pelengkap wajib dalam sajian nasi padang.

Sayangnya, masakan padang didominasi oleh bahan-bahan yang bisa menyebabkan penyakit apabila dikonsumsi secara berlebihan. Contohnya, adanya santan yang kental mungkin merupakan salah satu kunci kelezatan makanan padang. Namun dibalik kelezatan tersebut, terlalu banyak santan dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Santan mengandung lemak tak jenuh yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat. Tingkat kolesterol dan lemak tak jenuh yang tinggi dapat menyumbat aliran darah yang bisa berujung pada serangan stroke.


Lantas, apa masih boleh mengandalkan masakan padang sebagai penuntas lapar? Pasti boleh. Namun, prinsip dasar asupan nutrisi seimbang perlu diterapkan dalam pemilihan makanan sehari-hari. Jangan lupa untuk menyertakan sayuran dan buah,(Penulis: Ester Ajeng Budi Kirana/PNB3A/2017)

Sunday, October 29, 2017

KERAK TELOR, PIZZA ALA BETAWI

Photo By : Rosa Ratnawati
 Hai hai… adakah yang suka kerak telor?
Kerak Telor merupakan salah satu makanan khas masyarakat Betawi yang keberadaannya sudah mulai sulit ditemukan. Untuk dapat menikmati atau mencicipi makanan yang terbuat dari beras ketan, telur dan kelapa sangrai ini hanya dapat ditemukan di pasar-pasar malam ataupun event-event tertentu seperti pada Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan festival-festival yang berhubungan dengan kebudayaan Betawi.
Pak Tegar seorang penjual kerak telor, menceritakan bahwa sudah 10 tahun dirinya berjualan makanan kerak telor yang merupakan ciri khas makanan orang Betawi ini. Dirinya mengatakan terbilang baru dalam berjualan kerak telor dikarenakan kalau dibilang lama justru orang-orang tua yang berjualan kerak telor itulah yang benar-benar pedagang kerak telor.
Setiap harinya, Pak Tegar menjajakan kerak telor di kawasan Setu Babakan. Sebelum membuka usaha kerak telor, beliau merupakan karyawan di salah satu perusahaan swasta yang berada di daerah Kuningan. Penghasilan per harinya sulit untuk diprediksi dikarenakan kerak telor merupakan makanan ringan. Biasanya per minggu menghabiskan 2-3 kg telor ayam maupun bebek dengan modal per hari Rp. 500.000. Penghasilan beliau meningkat hingga dua kali lipat dari hari biasanya pada saat diadakannya event lebaran betawi tahun 2017. 


Tidak perlu memakan waktu lama untuk menyajikannya, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit maka kita bisa menyantap kerak telor hangat yang nikmat. Kuliner yang sering dijajakan saat adanya Pekan Raya Jakarta ini terbuat dari bahan-bahan seperti, beras ketan putih, telur ayam/bebek, ebi (udang kering yang diasinkan) yang disangrai kering ditambah bawang goreng, lalu diberi bumbu yang dihaluskan berupa kelapa sangrai, cabe merah, kencur, jahe, merica butir, garam dan gula pasir.
Bahan utama kerak telor adalah telur bebek.  Kalau ada yang tidak suka dengan telor bebek bisa di ganti dengan telor ayam. Tapi konon katanya memang lebih sedap dan gurih kalau pakai telur bebek.  Selain itu, ternyata telur bebek ini mempunyai banyak khasiat,  antara lain :
       ·         Kandungan vitamin A yang tinggi. Setiap 1 butir telur bebek mengandung vitamin A                 sebesar 472 IU yang sangat baik untuk kesehatan mata.
       ·         Menangkal radikal bebas karena kaya anatioksidan.
       ·         Membantu melancarkan metabolisme tubuh.
       ·         Memperkuat tulang dan gigi
       ·         Menambah vitalitas pada pria

Mungkin karena khasiatnya ini yang membuat telur bebek biasanya lebih mahal dibanding telur-telur lainnya.  Apalagi di tukang-tukang jamu, telor bebek biasanya laris manis, saingan sama telur ayam kampung.
Ada yang unik dari cara memasak kerak telor. Beras ketan di campur air dimasukkan kedalam wajan hingga mendidih, kemudian masukan telor dan aduk -aduk hingga tercampur dan kering,  maka wajan akan dibalik menghadap panas arang dari anglo lalu dibiarkan sehingga menjadi kerak. Setelah permukaan telor agak sedikit gosong, kerak telor diangkat dan diberi bumbu lalu siap dihidangkan. Kerak telor sama sekali tidak menggunakan kompor, melainkan anglo dan arang. Cara memasak dengan anglo ini digunakan untuk menjaga rasa khas dari kerak telor yang gurih dan legit.(Penulis : Rosa Ratnawati/PNB3A/2017)

Penjual Garam Keliling

Photo By : Ibnu Qoyyim                              
             Anwar (32) adalah salah satu perantau dari Pati, Jawa Tengah. Pria berpostur sekitar 175 cm ini berbagi pengalamannya sebagai penjual garam keliling. Ia menghidupi dirinya  dengan cara berjualan garam halus dan bata. Anwar merantau sejak ia berumur 18 tahun dan ini tahun ke-14 di tanah rantau. Sebelum ia bekerja sebagai penjual garam keliling ia sempat menjadi kuli bangunan di Kalimantan bersama dua saudaranya. Sekitar dua tahun di Kalimantan baru ia memutuskan untuk pulang sebagai petani garam di desanya. Dua minggu ia menjadi petani garam, saudaranya mengajak untuk berjualan garam keliling yang notabennya lebih efektif dari segi penghasilan, tenaga, maupun waktu.
            Ternyata tidak semudah yang dibayangkan Anwar untuk berjualan garam keliling. Menghafal daerah yang asing baginya salah satu kendala awal ia berjualan. Belum lagi saat itu ia masih menggunakan sepeda tua yang hanya mampu membawa kapasitas dagangan secukupnya. “lebih nguras tenaga mas kalo udah nyasar tapi dagangan belom laku” curhatnya pada saat saya berbincang dengannya. Dari hasil penjualanya ia rata-rata mendapatkan uang sekitar 100-120 ribu per hari. Tergantung banyaknya dagangan yang terjual. Biasanya Ia berkeliling dari pukul 08.00 sampai selepas dzuhur. Anwar sudah memiliki beberapa langganan dari warung sembako, rumah makan, dan pasar. Seminggu sekali ia biasanya menitipkan dagangannya kebeberapa langganannya tersebut. Tidak jarang juga penjual es krim keliling yang membeli garam batu langsung ke tempatnya. Saat ini ia juga menjual cuka dan asem jawa sebagai pemasukan tambahan jika persediaan garam dari petani mulai menipis.
Suliltnya mendapatkan pasokan garam dari petani juga salah satu kendala yang dialami jika musim penghujan telah tiba. Intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan kualitas garam akan berkurang. Belum lagi panen yang molor dari jadwal mengakibatkan petani dan penjual garam rugi besar. Sehingga harga garam melambung tinggi dari harga biasanya. “serba salah mas kalo ujan mulu kita dapetnya mahal juga dari petani, kalo kita jual mahal ke pembeli  ga laku juga dikitanya” Keluhnya sambil menyiapkan dagangan. Belum lagi saingan dari penjual yang lain. Mereka banting harga seenaknya dengan kualitas garam yang buruk.

            Kehidupannya mengalami kemajuan. Saat ini ia sudah berkeluarga berkat hasil dari berjualan garam dan membeli motor meskipun bekas. “alhamdulillah mas, gini-gini juga masih bersyukur bisa nikah bisa beli motor meski bekas” ucapnya sambil meneguk kopi setelah selesai menyiapkan dagangan. Anwar biasa pulang kampung tiga bulan sekali untuk berkumpul dengan keluarganya. Ia memiliki dua orang anak. Yang pertama berumur lima tahun dan yang kedua dua tahun.(Penulis : Ibnu Qoyyim/PNB3A/2017)

Asal nama Casio

Photo By: Mutiasari
Jam tangan casio banyak yang mengira bahwa merk ini berasal dari Eropa atau Amerika. Namun Casio sendiri bila dilihat tidak ada kesan bahasa Jepang di dalamnya. Karena bahasa Jepang tidak ada huruf C. Casio sendiri sebetulnya dari nama asli perubahan ini yaitu Kashio Keisan ki Kabus hi kigaisha, nama perusahaan tersebut digunakan di Jepang. Nama perusahan ini lebih dikenal Casio Computer Co., Ltd di luar negeri. Nama yang berbeda tersebut memang sengaja digunakan oleh pemilik CasioTadaoKashio agar masyarakat luas lebih mudah untuk menghafal nama perusahaan ini, bukan hanya orang Jepang saja. Jika dilihat nama perusahaan ini juga diambil dari nama marga TadaoKashio. Perusahaan ini adalah perusahaan keluarga.
Perkembangan jam tangan Casio
Jam tangan merek Casio mulai dipasarkan pada tahun 1974. Nama seri pertama yang digunakan oleh Casio untuk produk jam tangan perdananya adalah Casiotron. Casiotron berbeda dengan jam yang dijual perusahaan lainnya. Jam ini mengadopsi tampilan dari kalkulator, pada masa itu display digital merupakan teknologi canggih dan masih sedikit perusahaan yang bisa menggunakannya.  Pembelian jam tangan selalu dilengkapi dengan box jam tangan serta dilengkapi dengan kartu atau buku garansi resmi merk jam tangan, serta ada beberapa merk yang juga dilengkapi dengan panduan manual book untuk setting jam tangan tersebut. Bentuk secara fisik jam tangan berbeda-beda ada yang berupa buku kecil yang dilengkapi dengan alamat-alamat service centre resmi merk jam tangan atau bisa juga berupa kartu. Harga jam tangan merk Casio dengan fitur seperti Petunjuk Jam / Tanggal / Chronograph Stopwatch, Battery Quarts, Water Resist 100 Meter. Pusat penjualan jam tangan Casio original murah dengan garansi resmi dan daftar lengkap harga jam tangan Casio dapat dilihat di harga link. Tipe yang banyak beredar adalah G-Shock, Pathfinder, Protek, Atomic Wave Ceptor, Baby-G, Casio digital dan analog watches.

Casio semakin menjadi popular saat mereka mengeluarkan beberapa inovasi produk jam tangan terbaru pada 1980-an. Mereka menjadi salah satu produsen pertama yang memproduksi jam tangan kristal kuarsa, baik digital maupun analog. Mereka juga merupakan salah satu produsen jam tangan pertama yang dapat menampilkan waktu dalam berbagai zona waktu yang berbeda. Selain itu jam tangan casio juga dilengkapi dengan alat deteksi suhu, tekanan atmosfer, ketinggian dan bahkan dapat menampilkan posisi GPS. Kini seiring berkembangnya dunia fashion dan model, Casio juga berusaha menuruti pasar dunia dengan memproduksi  berbagai jam tangan sesuai kebtuhan konsumen. Salah satu inoivasi terbaik dari Casio adalah seri Jam Tangan Protrek. Selain itu juga ada seri Jam Tangan Casio Baby-G sebagai jam tangan wanita yang didalam iklannya pihak Casio menggaet Girlsband asal Korea Selatan.(Penulis: Mutiasari/PNB3A/2017)

Nostalgia Perahu Kertas

Photo By : Kirana Putri Ersaprana 
            “Awas! jangan sampai miring!”
            “Sedikit lagi.. ayo.. pasti aku yang menang!”
            “Yah, tenggelam.”

            Apa yang pertama kali kalian pikirkan ketika membaca kutipan di atas? Apakah salah satunya pernah kalian ucapkan? Ya, pasti kata-kata itu terdengar tidak asing. Pada kesempatan ini saya akan membahas sedikit tentang permainan yang cukup digemari anak-anak pada tahun 90-an. Perahu kertas.
            Masa kecil adalah masa dimana kita bisa dengan bebas bermain tanpa mengenal beban. Bermain bersama teman di bawah rintik hujan saja mampu memberikan kebahagiaan tersendiri. Ketika sore datang, biasanya anak-anak kecil berkumpul di lapangan untuk memainkan berbagai permainan tradisional, seperti main petak umpet, lompat karet, bola bekel, bola kasti, kelereng, benteng, dan semacamnya. Salah satu yang tak kalah populer ialah main perahu-perahuan. Permainan wajib yang harus dilakukan ketika hujan berangsur pergi.
Dengan bahan-bahan sederhana, kita bisa membuat perahu mainan. Yang paling sering digunakan adalah kertas. Ada juga yang membuatnya dari daun, gabus, dan pelepah pisang. Biasanya sambil menunggu hujan reda, anak-anak akan membuat perahu mereka menggunakan kertas bekas dalam jumlah cukup banyak. Kalau tidak ada kertas, daun mangkok-mangkonan bisa dijadikan alternatif lain.
Namanya juga main perahu-perahuan, tentu saja syarat utamanya harus terdapat air. Genangan air dan aliran air pada selokan seolah menjadi “harta karun” buruan anak-anak untuk memainkan permainan ini. Mereka berlomba menghanyutkan perahu ke batas garis finish yang ditandai dengan batu atau tumpukan daun. Semua akan bersiap di garis start dan ketika terdengar aba-aba perahu mulai dihanyutkan. Anak-anak akan berlari di tepian selokan mengikuti laju perahu masing-masing sambil bersorak riang. Tak jarang pula ada yang bermain curang dengan melemparkan batu supaya perahu lawan tenggelam.
Bak di kamar mandi pun bisa dijadikan tempat bermain. Percikan air yang timbul dari hentakan gayung menjadi ‘tantangan’ tersendiri bagaimana cara kita mempertahankan perahu tidak goyang dan tenggelam. Hanya kalau kita terlalu lama bermain di dalam kamar mandi, suara lengkingan ibu adalah hal yang cukup menakutkan. Berbeda lagi jika permainan dilakukan di atas genangan air besar. Mereka akan membuat gelombang dengan memukul-mukul air menggunakan lidi agar perahu bisa bergerak lebih cepat untuk menentukan siapa pemenangnya. Semakin besar gelombang diciptakan, semakin banyak juga perahu yang oleng karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Belum lagi kemungkinan perahu menjadi basah terkena cipratan air sehingga tidak bisa bergerak. Asyik, bukan?
Namun, di era sekarang kalian akan jarang menemukan momen semacam itu. Saat dimana anak-anak dengan riangnya berkumpul bersama untuk memainkan permainan perahu kertas sehabis hujan. Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi kian meningkat. Permainan tradisional makin tergerus dan secara perlahan dilupakan. Kita lebih sering menemukan anak-anak zaman sekarang berbondong-bondong memegang gadget mereka. Sesuatu yang sebenarnya justru belum terlalu diperlukan untuk membantu perkembangan anak usia dini. Masa kecil yang harusnya mereka habiskan bersama teman-teman sebayanya justru terlewatkan oleh benda kecil tak bernyawa. Memainkan permainan yang ‘lebih  modern’, yang bisa di unduh kapan saja dan dimana saja.
Dampaknya jelas terasa. Mungkin ada banyak nilai edukasi dan manfaat positif yang dapat diberikan dari kemajuan teknologi. Tapi bukan berarti semuanya baik. Mereka dapat dengan mudah menerima informasi dan hal-hal baru tanpa penyaringan terlebih dahulu. Konten-konten menyimpang juga sangat berbahaya bagi moral mereka. Kepekaan terhadap lingkungan sekitar menjadi sangat kurang. Anak-anak akan jarang memperhatikan lingkungan dan orang-orang di sekitar mereka sehingga timbul kurangnya rasa empati terhadap sesama. Mereka seolah hanyut dalam dunianya sendiri. Selain itu, terlalu lama menatap layar ponsel bisa merusak mata dan sistem kerja otak.  Kecanduan bermain gadget juga bisa membuat prestasi belajar di sekolah menurun atau bahkan menghambat perkembangan psikologis anak.

Untuk itu, sangat diperlukan peranan orang tua dalam mengawasi aktivitas buah hati mereka. Tidak ada yang melarang penggunaan gadget bagi pertumbuhan anak. Tapi ada baiknya jika penggunaannya dibatasi sesuai kebutuhan. Akan lebih baik jika masa kanak-kanak mereka dihabiskan untuk membangun memori bersama orang-orang tersayang dan teman-teman sebayanya. Sehingga kelak mereka memiliki cerita yang bisa dikenang ketika dewasa nanti. Seperti nostalgia bermain perahu kertas di kala hujan, hehe :p (Penulis:Kirana Putri Ersapranu/PNB3A/2017)

PESONA SANG SURAT YANG HAMPIR PUDAR

Photo By : Kirana Putri Ersapranu
Kalian mungkin sudah tidak asing lagi dengan surat-menyurat, bahkan tak jarang pula menggunakannya sebagai sarana untuk berkomunikasi kepada orang lain. Baik surat yang bersifat formal ataupun nonformal.

Ya, surat merupakan salah satu media komunikasi yang sampai saat ini masih digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dari satu orang ke orang lainnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, surat berarti kertas yang bertulis atau secarik kertas sebagai tanda atau keterangan sesuatu yang ditulis. Sedangkan surat-menyurat adalah kegiatan untuk mengadakan hubungan secara terus-menerus. Umumnya, surat biasa digunakan untuk menjalin hubungan secara luas, memberikan ucapan selamat ulang tahun, atau sekadar tukar-menukar pengalaman dan pengetahuan.

Jauh sebelum ditemukannya kertas, orang menulis surat pada daun pelepah pohon atau kulit binatang. Kegiatan surat-menyurat pertama kali dimulai di Mesir pada 2000 SM. Saat itu surat ditulis pada sebuah mangkuk atau kain linen, kemudian di bungkus dengan kain, kulit binatang, atau sayuran untuk dikirim. Sedangkan di Indonesia sendiri, tradisi surat-menyurat sudah ada sejak zaman kerajaan. Surat di tulis di atas batu, kayu, atau kertas yang terbuat dari kulit bambu. Tradisi menulis surat semakin berkembang pesat ketika Belanda datang ke Indonesia.

            Namun, seiring berjalannya waktu kegiatan berkirim surat semakin jarang ditemukan. Usang. Terabaikan. Manusia di era modern seolah sudah ‘muak’ berhadapan dengan kertas. Menulis surat dianggap sebagai hal yang tidak efektif di zaman yang serba cepat dan instan. Bersosialisasi jauh lebih mudah menggunakan internet dengan fasilitas jejaring sosial media seperti facebook, twitter, instagram dan semacamnya. Jika dulu, ketika masih duduk di sekolah dasar kita pernah merasakan punya sahabat pena lewat berkirim surat, kebiasaan seperti ini justru akan menjadi sesuatu yang tabu dan asing pada masa sekarang.

Buat apa repot-repot menulis surat pada lembaran kertas? Toh, sekarang kita bisa lebih mudah bertukar pesan lewat smartphone pakai email, sms dan media sosial. Informasi bisa langsung dengan cepat tersebar, kan?
SALAH BESAR. Menulis di atas sebuah kertas memang terkesan kuno, tapi memiliki kesan tersendiri. Membuat kita lebih banyak berpikir mengenai apa yang hendak kita sampaikan supaya kita tidak perlu menulis kembali jika terdapat kesalahan. Memilih secara hati-hati kata apa yang akan kita gunakan agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Kita juga bisa leluasa mengekspresikan seluruh isi hati yang tidak bisa diucapkan oleh lisan tanpa harus takut dengan reaksi yang nantinya akan kita dapat. Belum lagi, perasaan ‘deg-degan’ yang kerap menghampiri ketika menunggu dan menerima surat datang. Manfaat lain menulis surat adalah bisa dengan mudah kita simpan kalau ingin membacanya kembali di lain waktu.

Sangat berbeda saat kita menulis pesan di media sosial atau aplikasi chatting. Orang cenderung akan langsung menulis apa yang ingin ia utarakan tanpa berpikir. Tulisan tersebut justru menjadi kurang makna ketika terpampang di layar ponsel, yang terkadang disingkat dan tidak disenyawai oleh jiwa penulisnya. Bahkan ada yang kadang kala lebih memilih berbicara langsung untuk mengutarakan isi hatinya kepada lawan bicara. Hal ini bisa membawa dampak yang kurang baik, karena ketika seseorang berbicara spontan tentang isi hatinya, ia cenderung tidak menyaring terlebih dahulu kata apa yang akan ia lontarkan dan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Kemajuan teknologi di bidang komunikasi memang tidak perlu diragukan, hingga mampu membuat seseorang dengan cepat ‘berpindah hati’ kepada hal-hal baru guna mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seolah seperti mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kondisi seperti ini tentu tidak bisa disalahkan. Hanya saja kita harus memahami, bahwa ketika menemukan sesuatu yang baru tidak berarti harus melupakan sesuatu lainnya.

Era globalisasi yang ditandai dengan semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi, suatu saat nanti mampu membuat pesona sang surat memudar. Menurunnya minat untuk menulis dan hilangnya sentuhan imajinasi juga ekspresi emosional adalah hal yang sedang dihadapi masyarakat saat ini. Tidak menutup kemungkinan, surat secara perlahan hanya akan menjadi sekadar bentuk formalitas semata. Punah. Tinggal kenangan. (Penulis :Kirana Putri Ersapranu/PNB 3A/2017)

Saturday, October 28, 2017

Museum Fatahillah Salah Satu Pilihan Lokasi Rekreasi

Photo By : Syalika Alamanda

Sejarah Museum Fatahillah Jakarta adalah salah satu bangunan gedung peninggalan Era penjajahan Belanda, Selain itu gedung ini merupakan salah satu bangunan bersejarah yang merupakan saksi bisu perjuangan bangsa kita meraih kemerdekaan. Museum yang terletak pada wilayah Jakarta pusat ini, memang memiliki ketertarikan tersendiri. Selain letaknya pada pusat kota, museum ini juga menyimpan sejarah pada masa penjajahan Belanda di tanah air khususnya di Jakarta.

Wisata museum bersejarah, merupakan salah satu pilihan rekreasi, selain syarat akan makna pembelajaran tapi juga memberikan pemikiran bagi kita generasi penerus bangsa agar menghargai perjuangan para pahlawan, lewat sejarah museum fatahillah pada ulasan berikut.
Pada awalnya sejarah museum fatahillah merupakan bangunan kolonial Belanda yang dipergunakan sebagai balai kota.  Peresmian gedung dilakukan pada tanggal 27 April 1626, oleh Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier (1623-1627) dan membangun gedung balai kota baru yang kemudian direnovasi pada tanggal 25 Januari 1707, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan baru selesai pada tanggal 10 Juli 1710 di masa pemerintahan lain, yaitu pada Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck.

Kemudian sekitar tahun 1919 untuk memperingati berdirinya batavia ke 300 tahun, warga kota Batavia khususnya para orang Belanda mulai tertarik untuk membuat sejarah tentang kota Batavia. Lalu pada tahun 1930, didirikanlah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala hal tentang sejarah kota Batavia.

Tahun 1936, Museum Oud Batavia diresmikan oleh Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer (1936-1942), dan dibuka untuk umum pada tahun 1939.. Setelah itu pada tahun 1968 gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta dan kemudian dijadikan sebagai Museum pada tahun 1974.

Museum Fatahillah
Pada sejarah museum fatahillah berdasarkan pembentukannya hingga bisa kita kunjungi sampai sekarang ini, menyimpan sisa penjajahan di dalamnya. Terbentuk menjadi dua lantai dengan ruang bawah tanah ini, berisikan banyak peninggalan bersejarah yaitu :
·                    Lantai bawah : Berisikan peninggalan VOC seperti patung, keramik-keramik barang kerajinan seperti prasasti, gerabah, dan penemuan batuan yang ditemukan para arkeolog. Terdapat pula peninggalan kerajinan asli Betawi (Batavia) seperti dapur khas Betawi tempo dulu
·                    Lantai dua : Terdapat perabotan peninggalan para bangsa Belanda mulai dari tempat tidur dan lukisan-lukisan, lengkap dengan jendela besar yang menghadap alun-alun. Konon, jendela besar inilah yang digunakan untuk melihat hukuman mati para tahanan yang dilakukan di tengah alun-alun.
·                    Ruang bawah tanah : Yang tidak kalah penting pada bangunan ini adalah, penjara bawah tanah para tahanan yang melawan pemerintahan Belanda. Terdiri dari 5 ruangan sempit dan pengap dengan bandul besi, sebagai belenggu kaki para tahanan.(Penulis : Syalika Alamanda/PNB3A/2017)