Showing posts with label FOTOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label FOTOGRAFI. Show all posts

Wednesday, September 25, 2019

Tips komposisi framing dan keuntungan dalam fotografi

Framing-Pict. doc.iphonephotogrphyschool.com
Di dunia fotografi tidak sedikit fotografer apalagi yang masih baru belajar fotografi melupakan tentang komposisi. Mereka lebih terpaku pada hal-hal teknis seperti setingan kamera dll. Mereka seolah tidak peduli bahwa fotografi tidak hanya soal teknis, padahal ada banyak hal yang dapat membuat foto lebih menarik.

Komposisi framing dalam fotografi salah satu contohnya. Mungkin belum pernah membayangkan, bahwa dengan pengaturan komposisi sesungguhnya dapat ditonjolkan subjek utama. Bahkan tidak jarang akan mendukung keberhasilan foto-foto yang kita buat.
Seperti yang kita ketahui, fotografer dengan kamera secanggih apapun jika tidak optimal dalam mengkomposisi fotonya, hasilnya akan biasa saja. Namun sebaliknya, jika kameranya biasa saja tapi fotografernya bisa menghasilkan foto dengan komposisi yang baik tentu akan lebih menghasilkan foto berdimensi enak dipadang mata pemirsa.

Dan tidak ada salahnya juga jika kedua hal tersebut dimiliki, kamera canggih dan pengetahuan yang baik tentang komposisi dalam fotografi. Sekedar mengulang untuk pengingat, komposisi secara sederhana diartikan sebagai cara menyusun elemen-elemen dalam gambar, elemen-elemen ini mencakup garis, bentuk, warna, terang dan gelap.

Framing menjadi salah satu komposisi fotografi yang populer digunakan baik dalam fotografi landscape maupun fotografi lainnya. Secara arti komposisi framing bisa diartikan membingkai object POI ( Point Of Interest ) dengan elemen yang ada disekitar.

Framing merupakan teknik bagaimana mengarahkan perhatian seseorang kepada subyek foto dengan membatasi elemen-elemen foto yang lain menggunakan sesuatu yang mengelilingi elemen Focal Point. Dengan komposisi framing, dapat menambah kesan dimensi dalam foto karena ada lapisan yang dibentuk antara frame dengan Focal Point sehingga secara visual lebih menarik. Selain itu, dengan membuat elemen lain mengisolasi subyek utama, dapat menuntun mata dan perhatian orang yang melihat foto kearah subyek utama tadi.

Keuntungan Framing


Ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dengan melakukan framing yaitu:
  • Memberikan konteks pada foto, karena framing akan memberikan kesan sebuah pembatasan dan pemahaman terhadap lingkungkan yang dipotret.
  • Memberikan kedalaman pada foto, karena framing biasanya akan menempatkan sesuatu benda atau obyek pada foreground yang bisa memberikan dimensi pada foto.
  • Menuntun mata menuju ke Focal Point, karena framing berarti menutup ruang kosong dan memaksa mata menuju ke arah Focal Point yang dipilih.
  • Menggugah rasa keingin tahuan Seseorang, terkadang ketertarikan pada apa yang tidak terlihat bisa jadi sama besarnya dengan apa yang terlihat. Penggunaan framing yang tepat bisa membuat penikmat foto berpikir, bahkan berimajinasi apa yang ada di belakang frame tersebut.

Tips Komposisi Framing

  1. Carilah angle yang berbeda – seringkali kita ingin memotret sebuah pemandangan yang sangat populer, dan tentunya kebanyakan orang akan mengambil gambar tersebut dari sudut yang sama saja. Untuk bisa menjadi berbeda dengan yang lain, dan supaya foto kita jauh lebih keren dan tidak membosankan, kita harus membedakan sudut pandang kita. Jadi, hal yang pertama kita harus lakukan adalah mencari angle yang lain. Mungkin hanya pindah beberapa meter ke samping, atau malah mundur dari angle yang sering dipakai oleh yang lain. Jangan lupa untuk mencari bagian dari alam ataupun arsitektur sekeliling yang dapat dijadikan framing agar foto kita lebih menarik dari yang lainnya.
  2. Jangan lupakan foreground- Ini sering terjadi, di mana fotografer terlalu memikirkan background dan object, sehingga lupa mengikutkan sebuah foreground. Foreground itu adalah object yang terletak di antara object dan fotografer. Foreground inilah yang dapat membantu menambahkan efek 3 dimensi dari sebuah foto. Tapi jangan sampai foreground nya itu terlalu dominan, dan mengambil perhatian dari objek utama. Gunakanlah foreground sebagai framing untuk membingkai object tersebut.
  3. Background itu penting – Inilah yang paling harus diperhatikan dari sebuah foto landscape. Background ini lah yang bisa mengatur mood atau feeling dari foto tersebut. Dalam foto landscape, biasanya background itu adalah langit atau awan. Untuk sebuah foto yang dramatis, langit yang berawan tentunya akan lebih bisa mencapai itu. Perhatikanlah agar background nya itu tidak mengganggu subject dari foto, tapi membingkainya agar mata kita langsung tertuju pada titik yang kita inginkan.
  4. Object tidak harus di tengah. Ingat rumus “rule of third”! – Jika menggunakan teknik framing/membingkai ini, sang fotografer akan cenderung untuk meletakkan objecte tersebut tepat di tengah foto. Namun, jangan abaikan “the rule of thirds”, yaitu menempatkan object di bagian 1/3 dari samping. Ini akan membantu untuk menjadikan foto kita lebih spesial, dan menangkap tujuan mata dari orang yang mengamati foto kita.
  5. Framing tapi tidak mengganggu dan dominan – Pastikan bahwa bingkai alami ini hanyalah pemeran dampingan, yang tugasnya adalah mendukung pemeran utama dari foto tersebut. Usahakan agar bingkai ini tidak mendominasi foto tersebut, dan biarkanlah object foto kita menjadi “hero” dari foto kita.
  6. Framing tidak harus menutupi sekeliling Focal Point, bisa jadi hanya satu atau dua sisi pada foto. yang menjadi pertanyaan penting  apakah dengan framing yang akan diambil bisa menonjolkan focal point atau malah sebaliknya? Terkadang aplikasi framing yang salah bisa menjadi sebuah pengalih perhatian bagi sebuah foto.
  7. Pertimbangkan juga apakah framing yang akan diaplikasikan terfokus atau tidak, dalam beberapa kasus frame yang blur bisa membangkitkan mood serta kedalaman pada sebuah foto (gunakan Aperture lebar).
  8. Frame yang terfokus dengan baik bisa membantu menambahkan konteks dalam foto (gunakan aperture kecil/sempit).
Penulis : Azen Inanto dan Dimas Nur Iskandar

Monday, June 17, 2019

Memahai Fungsi dan Jenis Metering dalam Kamera DSLR

Pict.doc.fstoppers.com

Metering dalam kamera sangat berperan penting untuk mengukur pencahayaan dari bagian subjek yang kita fokuskan, kemudian setelah  selesai mengukur selanjutnya light meter bertugas untuk menentukan berapa  nilai eksposur (ISO,F,S)  yang dibutuhkan untuk mendapat cahaya supaya  menghasilkan foto yang baik.

Nah disini kita akan membahas cara kerja metering, Sederhananya bahwa metering itu mengukur berdasarkan intensitas warna dari subjek atau bagian dari subjek yang Anda fokuskan. Selanjutnya metering bekerjasama dengan kamera agar bagaimana subjek tersebut bisa mendapatkan pencahayaan / eksposur yang normal. Hanya saja, intensitas warna pada sebuah benda akan dipengaruhi oleh "intensitas cahaya" sehingga dalam hal ini warna akan dibagi menjadi dua kategori yaitu "warna gelap" dan "warna cerah".

Apa yang dimaksud dengan warna gelap tidak selalu itu berarti "hitam", warna coklat tua atau biru tua juga termasuk dalam kategori warna gelap, begitupula yang dimaksud dengan warna cerah yang tidak selalu itu berarti "putih". Ini seperti "foto hitam & putih (black & white)". Entah itu kuning, hijau, merah, atau biru, jika sudah dalam konsep hitam & putih maka yang tampak hanyalah warna hitam dan putih saja, selanjutnya tinggal dilihat kadar warnanya apakah cenderung gelap atau cenderung cerah? Seperti itu kira-kira cara metering mengukur berdasarkan intensitas warna.

Jadi, ketika metering mengukur subjek berwarna coklat tua misalnya, maka metering tidak mengenalinya sebagai "warna coklat", melainkan metering menganggap bahwa subjek tersebut teridentifikasi "gelap" dan membutuhkan cahaya yang banyak. Tapi jika subjek tersebut berwarna "coklat muda", maka metering mengidentifikasi subjek sebagai "cerah" dan tidak memerlukan banyak cahaya atau bahkan mungkin cahayanya harus dikurangi. Inilah prinsip kerja yang digunakan oleh metering yang dikenal sebagai Gray 18%.

Nah sebenarnya apa itu gray 18%? Disini akan kita simak, Karena intensitas warna juga ikut mempengaruhi hasil pengukuran metering, sehingga metering memerlukan "tolak ukur" untuk menetapkan bahwa kondisi pencahayaan subjek telah mencapai normal. Maka disepakatilah bahwa sebuah subjek dengan eksposur yang normal itu harus memiliki kecerahan seperti warna abu-abu dengan kadar 18%. Oleh sebab itu dinamakan sebagai Gray 18%. Berikut contoh kecerahan Gray 18%.


Semua produsen kamera memberlakukan Gray 18% ini sebagai patokkan atau tolak ukur untuk kadar pencahayaan / eksposur yang normal pada sebuah subjek. Entah itu subjek berwarna gelap ataupun subjek berwarna cerah, semuanya akan diubah ke Gray 18%. Perlu dicatat juga bahwa grey 18% ini bukan maslah warna namun mengarah ke kecerahan.

Seperti penjelasan di atas, bahwa ketika metering mengukur subjek berwarna gelap seperti coklat tua, maka metering menganggap subjek tersebut sebagai "gelap" dan kekurangan cahaya, sehingga hasil pengukuran metering mengharuskan kamera perlu disetting untuk mendapatkan cahaya yang banyak, agar subjek bisa mendapatkan eksposur yang normal. Lantas bagaimana kamera mengetahui apakah eksposur pada subjek sudah normal atau belum? Jawabannya adalah ketika subjek tersebut memiliki kecerahan seperti Gray 18%. Paham? Dan karena prinsip kerja ini sehingga warna coklat tua pada subjek mungkin akan berubah menjadi lebih cerah mendekati coklat muda. Mengapa bisa? Karena warna subjek sudah dipengaruhi intensitas cahaya yang tinggi.

Begitupula halnya ketika metering mengukur subjek berwarna cerah seperti warna putih. Menurut prinsip kerja metering bahwa putih terindetifikasi "kelebihan cahaya (over exposure)", sehingga metering mengharuskan kamera perlu disetting untuk mengurangi pencahayaan pada subjek tersebut, hingga batas kecerahan seperti Gray 18%. Dan akibatnya warna putih tidak akan lagi terlihat "putih cerah" dan akan sedikit memudar. Berikut ilustrasi cara kerja Gray18%:


Kesimpulannya, apapun intensitas warna pada subjek yang Anda fokuskan, jika Anda ingin subjek tersebut dalam kondisi eksposur yang normal, maka "mau tak mau" subjek harus memiliki kecerahan Gray 18%.
Untuk membuktikan teori tersebut, maka mari kita laukan percobaan seperti berikut:


  • Siapkan 1 baju warna putih dan 1 baju warna hitam, kemudian letakkan secara berdampingan.
  • Gunakan mode pemotretan Program (P) agar lebih mudah melihat perbedaan eksposur pada kedua subjek.
  • Selanjutnya aktifkan mode "Life View" untuk melihat subjek secara langsung melalui monitor LCD kamera (bukan lewat viewfinder).
  • Sekarang "geser fokus" ke baju warna hitam menggunakan tombol navigasi kamera. Usahakan fokus tidak keluar dari area baju hitam.

  • Perhatikan informasi di light meter, karena ini mode Program (P) maka titik indikator dalam light meter akan "selalu" berada di tengah sekalipun Anda merubah ISO. Titik di tengah menandakan eksposur dalam keadaan normal.
  • Sekarang geser fokus ke baju warna putih dan usahakan fokus tidak keluar dari area baju putih. Nah, di sinilah Anda akan melihat eksposur atau pencahayaan "menurun" secara drastis, akan tetapi titik dalam light meter masih berada di tengah yang artinya eksposur masih dalam keadaan normal.



  • Tapi coba Anda geser kembali fokus ke baju warna hitam, maka eksposur akan kembali seperti semula, sedangkan titik dalam light meter masih tetap di bagian tengah. Berikut hasil gambar dari percobaan yang saya lakukan:

Dalam melakukan eksperimen di atas, saya menggunakan tempat yang sama dan dalam kondisi pencahayaan yang sama pula, tapi mengapa hasilnya bisa berbeda? Mengapa Gambar A lebih terang dari Gambar B? Padahal metering menunjukan indikator yang sama? Untuk menjawab ini maka Anda harus memahami 2 hal:


  • Metering hanya mengukur subjek atau bagian dari subjek yang "difokuskan". Intinya di mana Anda meletakkan titik fokus, di situ metering melakukan pengukuran.
  • Karena hanya mengukur bagian yang difokuskan saja, sehingga konsekuennya bisa menyebabkan bagian atau area lainnya menjadi over exposure atau under exposure.

Itulah alasannya mengapa Gambar A di atas lebih "terang" ketimbang Gambar B. Karena metering merekomendasikan program untuk menambah cahaya ketika fokus diletakkan pada baju warna hitam, sehingga konsekuennya menyebabkan area sekitar baju menjadi kelebihan cahaya (over exposure).

Namun ketika fokus di letakkan di baju putih, metering malah merekomendasikan program untuk mengurangi cahaya sehingga menyebabkan area selain baju menjadi kekurangan cahaya (under exposure).


Nah, berangkat dari situlah sehingga kebanyakan orang "salah paham" dengan cara kerja metering. Mereka menganggap bahwa metering bisa keliru dan menyebabkan penyimpangan eksposur. Padahal cara kerja metering memang sudah seperti itu.


Jenis-Jenis Mode Metering

Beberapa jenis metering yang umum terdapat didalam kamera adalah :
  •        Spot Metering
  •         Patrial Metering
  •        Center Weighted Metrering
  •         Evaluativ/Matrix Metering

Spot Metering
Spot Metering : Pada mode ini metering hanya akan mengukur pencahayaan pada area titik fokus tengah dengan jangkauan yang sangat sempit sekitar 1-5% dari seluruh adegan dan mengabaikan semua area diluar titik fokus tengah. Secara default mode Spot ini akan mengukur pusat frame, namun kemungkinan teknologi metering akan mengalami pengembangan untuk DSLR kelas pro sehingga bisa saja mode Spot tidak hanya mengukur titik fokus tengah saja, tetapi juga bias bekerja dititik focus lainnya.
Mode ini bisa Anda gunakan untuk memotret subjek utama yang kurang cerah dibandingkan area sekitarnya, seperti memotret seseorang pada posisi backlight (posisi dimana subjek membelakangi matahari), memotret bulan atau memotret pertunjukan teater di mana para actor berdiri didepan tirai yang gelap dan semar.


Intinya dengan mode Spot ini fotografer akan berfokus menghasilkan eksposur normal pada area titik fokus tengah, misalnya ketika titik fokus tengah diarahkan ke wajah manusia. Persoalan bagaimana kadar eksposur diluar area itu bukan lagi bagian dari pengukuran dari mode ini. Jadi konsekuennya adalah jika berdasarkan pengukuran mode Spot menyimpulkan bahwa wajah subjek lebih gelap dari area sekitarnya, kemudian kita mencoba mengatur kembali settingan kamera agar wajah subjek bisa mendapatkan eksposur normal, maka akan menyebabkan area sekitar wajah subjek yang tadinya sudah cerah akan kelebihan eksposur. Alasannya seperti yang saya katakan di atas, pengukuran berprioritas pada area titik fokus tengah. Ini juga berkaitan dengan penjelasan saya tentang cara kerja metering kamera.
Patrial Metering
Patrial Metering : Cara kerja mode ini masih sama dengan mode Spot di atas yaitu berkonsentrasi pada area titik fokus tengah. Hanya saja pada mode Partial ini metering akan jangkauan pengukuran lebih luas sekitar 10-15% dari keseluruan adegan. Mode ini juga bisa diandalkan untuk memotret dalam posisi backlight. Sedangkan konsekuennya juga sama seperti kasus wajah subjek yang saya jelaskan di atas. Intinya hampir semua mode metering memiliki cara kerja yang sama, yang hanya mengukur area tertentu dan mengabaikan area lainnya.

Center Weigted Metering
Center Weigted Metering : Mode Center Weighted juga masih menggunakan cara kerja yang sama dengan kedua mode di atas begitupula dengan konsekuennya. Namun pada mode ini metering akan mengukur cahaya pada bagian tengah dalam jangkauan yang lebih luas sekitar 60-80% dari seluruh adegan, sedangkan area lainnya akan diabaikan. Mode Center Weighted ini sering kali direkomendasikan ketika mengambil gambar Close-Up. Tapi tergantung juga bagaimana kondisi pencahayaan yang Anda hadapi

Evaluative / Matrix Metering
Evaluative / Matrix Metering : Bila pada Canon mode metering ini disebut Evaluative maka pada Nikon mode ini disebut Matrix. Hanya perbedaan nama namun fungsinya sama. Pada mode ini metering akan mengukur pencahayaan secara menyeluruh namun lebih memprioritaskan area dimana Anda meletakkan titik fokus. Mode Evaluative / Matrix ini merupakan mode default metering yang memang sangat cocok digunakan bila Anda tidak mau repot lagi menganalisa kondisi Pencahayaan dan bagaimana dampak pada subjek utama.

Dari penjelasan mode-mode metering di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa semua mode metering memiliki dasar kerja yang sama. Mengapa penjelasan diawali dari mode Spot agar Anda bisa mudah memahami cara kerja mode berikutnya. Kemudian luas area yang diukur oleh metering secara bertahap meningkat dari mode Spot sampai ke mode Center Weighted. Intinya metering hanya akan mengukur luas kecilnya area sesuai jangkauan yang diberlakukan oleh masing-masing mode, kecuali pada mode Evaluative / Matrix yang bekerja secara khusus.

Kesimpulan akhir bahwa tidak ada metering yang bekerja sempurna. Yang seharusnya Anda pahami bahwa sebagai fotografer Anda harus pintar memilih mana bagian dari adegan yang harus diprioritaskan dan siap menanggung konsekuen untuk bagian lainnya. Mustahil pada kondisi pencahayaan yang rumit Anda mengharapkan pencahayaan bisa stabil dan merata ke seluruh area, melainkan pada pemotretan terkendali dalam studio menggunakan sejumlah lighting. Oleh karenanya fotografer perlu mempertimbangkan olah digital sebagai upaya perbaikan pencahaayaan yang tidak merata.



Thursday, May 16, 2019

Penerapan dasar komposisi fotografi

Menciptakan sesuatu adalah keinginan setiap orang untuk menggapai apa yang diinginkan lewat kemampuan atau skil masing masing, dan pada dasarnya setiap individu memiliki cara berpikir yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap aktivitas dan daya penciptaannya.

Pada artikel ini kita membahas pemahaman element visual untuk menciptakan karya fotografi yang baik secara teori estetika, seperti yang kita ketahui fotografi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk merekam gambar menggunakan bantuan kamera dengan memanfaatkan bias cahaya. Saat menciptakan karya fotografi sama halnya dengan menggambar, melukis hanya saja medianya yang berbeda.

Fotografi juga menerapkan prinsip desain, untuk menciptakan foto yang baik tentu harus mempertimbangkan element-element visual dan menerapkan dasar komposisi.  Ada tujuh unsur dasar yang dapat diterapkan dalam karya fotografi yaitu : Garis, wujud, Bentuk, Tekstur, Pola, Warna, Ruang. Nah element tersebutlah yang akan kita tata dengan baik dalam frame menjadi kesatuan “unity” sehingga terlihat seimbang harmoni dan inilah pencapaian dari komposisi.

Contoh  element dasar fotografi yang diterapkan dalam komposisi :
  • Garis - Dapat  digunaka vertikal, horizontal, melengkung atau zigzak. contoh deretan tiang seperti gambar dibawah.
  • Wujud - Representasi objek dua dimensi. Contoh: foto perahu siluet.
  • Bentuk - Representasi objek tiga dimensi, biasanya melalui penggunaan pencahayaan dan bayangan.
  • Tekstur - Penggunaan pencahayaan untuk memunculkan detail suatu objek, membuatnya mudah untuk melihat apakah permukaannya halus atau lembut.
  • Warna - Menggunakan warna hangat atau dingin,  warna yang berlawanan dan berdekatan.
  • Pola /Pattern - Penggunaan pengulangan pola untuk membuat foto yang menarik.
  • Ruang - Ruang negatif atau positif dapat digunakan untuk membuat pernyataan seperti arah gerak. Sering terlihat ketika menggunakan aturan membagi tiga area di frame atau “Rule of thrid”.

Penerapan Garis

Pict.Dok.herickimphotography.com

Penerapa Wujud

pict.dok.digital-photo-secrets.com

Penerapan Bentku

Pict.doc.jasmine-harris-asphoto-unit1.blogspot.com

Penerapan warna

Pict.doc.www.creative-photographer.com

PenerapanTekstur

Pict.dok.http:www.digital-photo-secrets.com

Penerapan Pattern

Pict.doc.http:www.naturephotographysimplified.com

Penerapan Ruang

Pict.dok.www.tomerazabi.com
itulah elemen dasar komposisi yang harus kita pergunakan saat memotret, ditambah wawasan dan kejelian setiap individu yang dibelakang kamera. tentu semakin banyak melakukan maka semakin luaslah wawasan kita. semoga artikel ini bermanfaat. salam POJOK NYANTAI


Sunday, May 5, 2019

Tiga hal penting membuat teknik panning fotografi

Pict.Doc. Digital Photography School

Buat yang hobbi motret dan ingin belajar untuk mengembangkan teknik fotogarfi  dalam artikel ini kita mencoba membantu untuk mejelaskan bagaimana cara menciptakan karya fotografi dengan teknik panning, sebelum kita menjelaskan cara dan langkahnya penting kita memahami bahwa teknik panning itu akan menghasilkan karya foto yang objek bergerak tetap focus dan backgroundnya yang blur atau terlihat kabur, teknik ini sering dipakai saat pemotreatan sport, news dan juga baik digunakan saat memotret human intrest.


Untuk membuat fotografi  dengan teknik panning  ada tiga hal yang harus kita pikirkan apa saja itu?  simak penjelasan dibawah:

  1. Teknik Panning adalah menggunkan ranah kamera yang lambat, seperti yang kita ketahui dalam kamera banyak fitur dan mode. Jika anda menggunakan fitur kamera ckup memilih mode shutter priority- Tv atau S untk mengatur kecepatan dan pada mode ini shutter speed yang bias kita rubah dan sisanya di atur otomatis oleh kamera, hal penting disi adala mengapa harus mengubah rana kamera? Karena objek yang kita prtret atau rekam tidak sama kecepatannya, ibaratnya jika kita memotret motor sebagai objek tidak akan sama dengan mobil atau orang naik sepeda. Catatan disini adalah semakin cepat objeknya bergerak maka shutter speed akan semakin tinggi. Contoh  1.orang naik sepeda (1/25 detik  sampai 1/50) dan jika naik mobil (1/50 detik hingga 1/60)
  2. Kemudian untuk menjaga objek fokus saat bergerak adalah dengan cara setting kamera pada Auto Focus mode ke AF-C (Nikon) atau AI Servo (Canon) mode ini sangat baik untuk mendapatkan fokus saat objek berpindah objek.
  3. Saat memotret kita harus mengikuti arah gerak dari objek, kemudian sebelum kita menekan shutter speed maka terlebih dahulu membuat objek fokus, biasanya bila mengaktifkan fitur beep maka saat objek sudah terkunci akan ada bunyi lalu kita akan menkan shutter speed. Terakhir saat memotret dengan teknik panning ini sering gagal disebabkan getran yang sering terjadi atau shaking maka perhatikan dilensa ada tulisan VR atau stabilizer sebaiknya digunakan untuk mengurangi getaran, nah seperti biasa jika kita baru dalam menggunakan teknik panning ini sebaiknya menggunakan tripood atau penyanggah kamera.
catatan buat kita disini adalah semakin kita terbiasa maka hasil karyakitapun akan semakin baik nantinya, demikianlah artikel -Tiga hal penting membuat teknik panning fotografi, semoga bermanfaat.




Sunday, October 22, 2017

Pertunjukan Reog Ponorogo Di Kota Tua Menjadi Objek fotografi


Photo By : Rahmi

Human interest mungkin menjadi bagian koleksi yang sering kita jumpai. Bagi kalangan fotografer membuat photo human interest menjadi salah satu koleksi yang dikagumi. Teknik yang menggambarkan kehidupan pribadi manusia atau interaksi manusia, serta ekspresi emosional maupun suatu pekerjaan. Namun, dalam mengambil foto tersebut, kita harus memiliki feel dan kejelian dalam melihat moment, maka hasil karya tersebut akan menjadi sesuatu yang berharga.
            Seorang seniman jalanan di kawasan Kota Tua pada hari Sabtu, 21 Oktober 2017 menjadi sala satu moment yang saya abadikan. Para seniman yang menunjukkan beberapa aksinya menjadi tontonan pengunjung Kota Tua. Memberi hiburan untuk menarik perhatian kami. Dari banyaknya atraksi yang ditujukkan oleh senima tersebut, merupakan atraksi budaya penari Reog Ponorogo. Sebelum para penari menunjukkan aksinya, beberapa aksi lain ditunjukkan sebagai pembukaannya. Atraksi tariannya pun tak hanya satu bagian saja. Melainkan ada 3 pembukaan terlebih dahulu yang akan disajikan.
            Salah satu aksi tersebut, yaitu ketika orang dewasa melompati anak kecil yang berdiri dengan badan yang sedikit dibungkukkan. Setelah itu, barulah penari Reong menunjukkan aksi mereka. Pertujukan belum selesai sampai di sini. Masih ada bagian terakhir yang akan disajikan. Penutup inilah yang menjadi bagian yang paling seru, serta sangat kental dengan aroma magis dan ilmu kebatinan.
            Dalam artikel detiktravel menjelaskan bahawa untuk alur cerita Reog Ponorogo ada sejumlah versi. Namun, alur cerita Reoang Ponorogo yang menjadi resmi adalah kisah Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Rafil Kuning. Di tengah perjalanan dia yang berangkat bersama walinya yaitu Bujang Anom dicegat pasukannya, yang meliputi merak dan singa. Sedangkan Raja Ponorogo bersama wakilnya rupanya memiliki pengawal kuat.
Photo By : Rahmi
            Pengawal Raja Ponorogo yang dikenal dengan sebutan Work ini, disebut-sebut begitu sakti. Work punya ilmu hitam yang diyakini mematikan. Tarian Reog pun menggambarkan peperangan antara Kerajaan Ponorogo dan Kerajaan Kediri dengan mengadu ilmu hitam antara keduanya. Tarian Reog pun kental dengan suasan yang mistis. Dalam pertunjukan sering kita lihat para penari pentas dalam keadaan kesurupan. (artikel detiktravel).
            Pada kawasan Kota Tua yang yang sering disebut KOTU merupakan tempat yang kaya akan tempat wisata. Namun, KOTU juga merupakan tempat yang kaya akan seniman. Para seniman yang menunjukan karyanya masing-masing. Sehingga saya sebagai pengunjung KOTU tidak mau kehilangkan kesempatan itu, dalam mengabadikan karya seni atau budaya yang tidak pernah saya temui.

            Salah satunya ialah seni pertujukan tari Reong Ponogoro yang telah dijelaskan di atas. Dalam mengabadikan memonet tersebut, tidak hanya tentang kejelian kita dalam melihat moment. Akan tetap, kita juga harus memiliki konsep, memperhatikan komposisi, lighting, dan setting kamera yang benar serta teknik lainnya seperti freezing. Sehingga moment tersebut memiliki daya tarik dan berharga.(Penulis : Rahmi/PNB3C/2017)

Thursday, October 19, 2017

Yousuf Karsh Salah satu Master Fotografi


Photo Doc. Wikipedia
Seorang fotografer yang berasal dari Armenia-Kanada, kelahiran Mardin, kekaisaran Ottoman (Turki) pada 23 Desember 1908 dengan nama Asli HOVSEP KARSH, Tokoh ini terkenal dengan Portrait Photo dimana yang dipotret adalah orang-orang terkenal. Dan Yuosuf Kars salah satu Tokoh fotografi Portraitur.

Awal karirnya dimulai saat migrasi dari Armenia ke  Ottawa, dan pada tahun 1928 Yousuf KarsH magang di Boston, pada tahun 1941 dia menciptakan foto dari Winston Churchill yang menjadi ikonik dimana mampu merkam ekspresi wajah dengan natural dan. Dan hasil jepretannya adalah Orang-orang yang sangat berperan dibidang politk atau pemimpin. Dan beberapa hasil fotonya dimuat dimajalah terkenal pada saat itu. Hasil photo kars yang memiliki ciri khas pencahayaan yang dramatis.



Pada saat usia 83 tahun tepatnya 1992 dia memutuskan untuk menutup studionya dan pension, Yousuf karsh meninggal pada 13 Juni 2002, pada saat dia meninggal karyanya dipamerkan secara permanen di Metropolitan Museum of Art, Museum Seni Modern, Galeri seni Kanada, Galeri Portret Nasional London, Museum Nasional di Tokyo-Jepang, Institut Seni Chicago, Museum Seni Saint Louis, Museum George Eastman.

Yousuf karsh diakui menjadi salah seorang fotografer terkemuka Kanada, dan menjadi tokoh Portraitur tekenal di abad ke 20, dan pada tahun 2017 sebuah monument yang diberikan Armenia untuk penghargaan diresmikan di Ottawa.

Photo Doc. Wikipedia









Memahami dan tips memotret Arsitektur


Photo Doc. bloglovin.com
Fotografi Arsitektur salah satu genre fotografi yang digemari saat ini, pada umumnya pikiran kita tentang Arsitektur  adalah merekam Dokumen bangunan, tentu ini bukan asumsi yang salah tetapi kita harus lebih jauh mengetahui bahwa Fotografi arsitektur  adalah genre foto yang mengutarakan Estetika dalam arsitektural, mulai dari Seni, ekspresi, komunikasi,etika,imaginasi, realita, harmoni.

Dalam memotret Arsitektur juga tidak hanya berbicara keindahan dan kemegahan bangunan,  tentu juga kaidah fotografi itu sendiri, seperti pencahayaan, komposisi dan juga dimensi dimana pengolahan element visual mulai dari titik,garis,bentuk,wujud sehingga mampu memberi keindahan terhadap visual tesebut.

Sebelum kita melakukan pemotretan Arsitektur tentu kita harus melakukan pencarian data dari bangunan tersebut, supaya tujuan penciptaan kita dapat terwujud dengan maksud kita, hal ini biasanya membutuhkan pengetahuan atau wawasan tentang bangunan tersebut seperti sejarah bangunan, baik itu proses pengerjaannya, pemakaiannya, sampai ke fungsinya. Dengan cara demikian kita lebih mudah untuk menampilkan visual sesuai tujuan kita.

Memotret arsitektur dapat kita bagi menjadi dua bagian yaitu :

Fotografi Interior :  disini kita akan merekam bagian-bagian dalam bangunan hal ini kita harus lebih jeli untuk menampilkan Detail dari setiap bagian dan juga property didalam kemudian tata ruangnya. Saat pemotretan disini tidak lepas dari pencahayaan, pemotretan seperti ini dapat dilakukan dengan pencahayaan Artivisial dan juga menggabungkan dengan cahaya ambient, sebab juga aka nada beberapa jendela dan lampu interiornya.

beberapa langkah dan tisp yang penting diperhatikan saat memotret :
  • Memotret secara persegi yang memperhatikan titik vertikal dan horizontal (perspektif garis)
  • Memotret dari atas ke bawah untuk memberikan kedalaman gambar
  • Pencahayaan merupakan konten utama dalam menentukan hasil yang bagus. Terdiri dari cahaya ambient dan fitur paparan 
  • Kontras yang tinggi pada kecerahan sinar yang menyorot pada jendela
  • Warna yang dihasilkan dari campuran cahaya alami dan cahaya buatan
  • Bingkai pada arsitektur dapat membingkai pandangan eksternal dari dalam bangunan
  • Cari sesuatu yang tidak terduga dalam memotret interior bangunan
  • Kedalaman ruang merupakan memfokuskan pada bagian tertentu dari sebuah gambar untuk menciptakan suasana.,Carilah ruang ke ruang untuk kesan misterius dapat berupa pencahayaan dalam ruangan.
  • Reflektif dapat membuat interior hidup 
  • Memotret interior dengan lurus ke atas
  •  Memotret secara alami bangunan dari cahaya alami pada waktu yang berbeda dalam sehari

Fotografi Eksterior : pemotretan ini berusaha untuk menampilkan tampilan luar bangunan secara  detail, sehingga mampu menggambarkan kemegahan dan seni keindahan bangunan tersebut.

Beberapa hal yang penting diperhatikan saat memotret adalah :
  •  Memperhatikan titik vertical dan horizontal di viewfinder (Gunakan Tripod)
  • Pencahayaan yang tepat, (untuk menghindari Bias cahaya yang berlebihan Gunakan Filter)
  • Pemilihan Lensa dan focalenght sudut luas (saat memotret gunakan Dof luas).
  • Waktu Pemotretan harus pertimbangkan arah sinar pagi/sore atau siang sebab  dampaknya terhadap bayangan akan mempengaruhi hasil foto kita.(sesuaikan kebutuhan kita)

Photo Doc. iphonephotographyschool.com
Dengan tips diatas anda tinggal meluruskan tujuan pemotretan anda sesaui dengan kosep yang anda inginkan dan tentunya juga komposisi yang anda inginkan dan terkadang kebanyakan fotografer membuat visual mereka dengan penerapan komposisi yang menggunakan konsep framing, refleksi bangunan, berusaha menciptakan dimensi-dimensi yang memberikan kesan bayangan dan lain-lain. Namun tanpa keluar dari konsep arsitektur yaitu merekam Keindahan bangunan secara Detail.

Saturday, September 30, 2017

Memahami Eksposur Fotografi

Eksposur dalam dunia fotografi adalah hal yang utama dimana saat memotret kita membutuhkan cahaya, eksposur itu  sendiri  dalam fotogarfi dapat didefenisikan jumlah cahaya yang mengenai klise atau roll film dan untuk kamera digital mengenai sensor kamera. Untuk menentukan kualitas foto yang baik harus mendapatkan cahaya yang seimbang, sebab semakin banyak cahaya mengenai film atau sensor maka hasil gambar akan semakin terang, dan juga sebaliknya. Namun penting diingat bahwa cahaya yang berlebihan akan mengakibatkan hasil foto Over Exposed, juga bila cahaya yang diterima sensor kurang maka gambar akan menjadi gelap atau disebut dengan under exposed.

Foto Doc : kelasfotografi.wordpress.com
Untuk mendapat cahaya yang seimbang saat memotret ada 3 faktor atau yang paling vital diperhatikan yaitu ISO,Shutter speed,  Appeture/Diafragma perhatikan penjelasan dibawah :

ASA/ISO Ukuran besarnya Sensitivitas Roll Film/klise atau sensor kamera terhadap cahaya.Sensitifitas sensor atau film dinyatakan dengan angka dan biasanya kelipatan dua untuk satu Stop atau step. ISO 100-200-400-800-1600-3200-6400. 
ISO 100 nilai terendah (ISO default) pada nilai ini sensor berada pada nilai terendah , untuk membuat sensor lebih sensitive terhadap cahaya nilai ISO dapat dinaikkan ke nilai yang paling tinggi. Saat ISO dinaikkan maka sinyal tegangan output sensor kamera menjadi lebih peka terhadap cahaya. Yang penting dicatatadalah bila ISO dinaikkan satu step atau 1Stop maka sensitivitas sensor kameraakan bertambah dua kali lipat. Misalnya jika kita memotret dengan ISO 100 dan kecepatan S 1/ 500 kemudian dengan bukaan lensa F 5.6 dan akan mengubah kecepatan ranah kamera ke 1/1000 maka ISO dapat kita ubah ke 200 dengan kondisi bukaan lensa yang sama. catatan kedua bila iso semakin tinggi maka konsekwensi adanya Noise untuk kamera DSLR namun jika analog akan ada pada Film.

Shutter  : Shutter adalah jendela atau tirai pada kamera sebelum cahaya mengenai film atau sensor kamera atau berapa lama cahaya mengenai film atau sensor kamera, dan untuk batasan waktu cahaya tesebut mengenai sensor akan disebut Shutter Speed,  kecepatan Shuttes speed berfariasi mulai dari yang rendah samapi yang paling tinggi, Catatan yang pertama di ingat adalah semakin cepat Shutter maka cahaya semakin minim atau sedikit yang mengenai sensor, dan juga sebaliknya semakin lambat shutter speed maka cahaya semakin banyak, Biasanya nilai shutte speed yang tersedia adlah 1/sekian detik dan dapat kita lihat contoh deretan angka dibawah :

1 – 1/2 – 1/4  – 1/8 – 1/15 – 1/30 – 1/60 – 1/125 – 1/250 – 1/500 – 1/1000 dst


Dari deretan angka diatas dapat kita lihat kalau kelipatan nilai ini merupakan kelipatan dua. Jadi 1/30 detik adalah dua kali lebih lambat dibanding 1/60 detik, sehingga kalau nilai shutter di kamera dirubah dari 1/60 detik ke 1/30 detik artinya jumlah cahaya yang masuk ke kamera ditambah dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Demikian juga 1/500 detik itu dua kali lebih cepat dari 1/250 detik, sehingga kalau nilai shutter dirubah dari 1/250 detik menjadi 1/500 detik itu artinya jumlah cahaya yang masuk dikurangi setengah dari sebelumnya.

Selain berguna untuk mengatur terang gelapnya sebuah foto, berkreasi dengan kecepatan shutter selanjutnya bisa menghasilkan foto high-speed dan foto slow-speed yang keduanya punya keunikan dan nilai seni tersendiri. Hanya saja memakai kecepatan shutter yang terlalu lambat diperlukan tripod untuk mencegah foto blur/sheeking karena getaran tangan saat memotret. penting di ingat juga biasanya ada Tulisan BLUB sebelum angka shutter speed, Bulb tidak memiliki kecepatan namun setelah memotret akan menghasilkan angka shutter di data teknis foto, angka tersebut diukur oleh keinginan dari si fotografer dimana rana kamera tidak akan menutup selama jari anda tidak melepas tombol shutter speed. 
Aperture : adalah bagian katup di dalam lensa berupa lubang yang bisa membesar dan mengecil (biasa disebut bukaan lensa atau diafragma), dimana semakin besar bukaannya maka makin banyak cahaya yang bisa masuk, sebaliknya semakin kecil bukaannya maka cahaya yang bisa masuk semakin sedikit. Besar kecilnya bukaan diafragma ini dinyatakan dalam f-number, dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f-number yang besar menyatakan bukaan kecil. F-number standar untuk lensa modern adalah seperti berikut ini (urut dari bukaan terbesar hingga terkecil) :

f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11 – f/16 – f/22
Konsep pengaturan cahaya dengan mengubah bukaan lensa memang sedikit lebih rumit untuk dipahami. Pertama yang perlu diingat, deret diatas merupakan kelipatan satu stop atau satu Exposure Value (EV). Bila kita menaikkan bukaan lensa sebesar satu stop (misal dari f/11 ke f/8) artinya kita menambah jumlah cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat, sementara bila kita mengecilkan bukaan lensa sebesar satu stop (misal dari f/2.8 ke f/4) artinya kita mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera sebanyak setengahnya.
Kedua, untuk pengaturan yang lebih presisi, diafragma pada lensa modern mampu diatur dalam step yang lebih kecil, umumnya adalah kelipatan 1/2 dan 1/3 stop. Sebagai contoh, diantara f/2.8 hingga f/8 ada beberapa f-number dengan kelipatan 1/3 stop (ditandai dengan warna biru) yaitu :

f/2.8 – f/3.2 – f/3.5 – f/4 – f/4.5 – f/5 – f/5.6 – f/6.3 – f/7.1 – f/8
Dari deret diatas, tampak kalau ternyata diantara f/2.8 dan f/4 masih tersedia dua f-number  lain yang mewakili 1/3 EV yaitu f/3.2 dan f/3.5. Dengan demikian kita punya keleluasaan dalam mengendalikan bukaan dengan lebih halus dan lebih presisi.
Selain sebagai kendali terang gelapnya sebuah foto, berkreasi dengan bermacam variasi bukaan lensa juga menentukan kedalaman foto atau depth-of-field. Foto yang diambil memakai bukaan besar akan memberikan latar belakang yang blur (out of focus), sementara bukaan kecil akan memberikan latar belakang yang tajam.
Dengan menyeimbangkan ketiga element diatas disebut dengan EKSPOSUR, beberapa orang membuat perumpamaan supaya cepat dipahami  sperti gambar dibawah :


Photo Doc.kelasfotografi.wordpress.com
Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami exposure adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini kita umpamakan segitiga exposure seperti halnya sebuah keran air.
  • Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran
  • Aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran
  • ISO adalah kuatnya dorongan air 
  • Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera
Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya. sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen penyusunnya. Jika kamu mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya. 
Sumber dari :kelasfotografi.wordpress.com