Memahai Fungsi dan Jenis Metering dalam Kamera DSLR

Pict.doc.fstoppers.com

Metering dalam kamera sangat berperan penting untuk mengukur pencahayaan dari bagian subjek yang kita fokuskan, kemudian setelah  selesai mengukur selanjutnya light meter bertugas untuk menentukan berapa  nilai eksposur (ISO,F,S)  yang dibutuhkan untuk mendapat cahaya supaya  menghasilkan foto yang baik.

Nah disini kita akan membahas cara kerja metering, Sederhananya bahwa metering itu mengukur berdasarkan intensitas warna dari subjek atau bagian dari subjek yang Anda fokuskan. Selanjutnya metering bekerjasama dengan kamera agar bagaimana subjek tersebut bisa mendapatkan pencahayaan / eksposur yang normal. Hanya saja, intensitas warna pada sebuah benda akan dipengaruhi oleh "intensitas cahaya" sehingga dalam hal ini warna akan dibagi menjadi dua kategori yaitu "warna gelap" dan "warna cerah".

Apa yang dimaksud dengan warna gelap tidak selalu itu berarti "hitam", warna coklat tua atau biru tua juga termasuk dalam kategori warna gelap, begitupula yang dimaksud dengan warna cerah yang tidak selalu itu berarti "putih". Ini seperti "foto hitam & putih (black & white)". Entah itu kuning, hijau, merah, atau biru, jika sudah dalam konsep hitam & putih maka yang tampak hanyalah warna hitam dan putih saja, selanjutnya tinggal dilihat kadar warnanya apakah cenderung gelap atau cenderung cerah? Seperti itu kira-kira cara metering mengukur berdasarkan intensitas warna.

Jadi, ketika metering mengukur subjek berwarna coklat tua misalnya, maka metering tidak mengenalinya sebagai "warna coklat", melainkan metering menganggap bahwa subjek tersebut teridentifikasi "gelap" dan membutuhkan cahaya yang banyak. Tapi jika subjek tersebut berwarna "coklat muda", maka metering mengidentifikasi subjek sebagai "cerah" dan tidak memerlukan banyak cahaya atau bahkan mungkin cahayanya harus dikurangi. Inilah prinsip kerja yang digunakan oleh metering yang dikenal sebagai Gray 18%.

Nah sebenarnya apa itu gray 18%? Disini akan kita simak, Karena intensitas warna juga ikut mempengaruhi hasil pengukuran metering, sehingga metering memerlukan "tolak ukur" untuk menetapkan bahwa kondisi pencahayaan subjek telah mencapai normal. Maka disepakatilah bahwa sebuah subjek dengan eksposur yang normal itu harus memiliki kecerahan seperti warna abu-abu dengan kadar 18%. Oleh sebab itu dinamakan sebagai Gray 18%. Berikut contoh kecerahan Gray 18%.


Semua produsen kamera memberlakukan Gray 18% ini sebagai patokkan atau tolak ukur untuk kadar pencahayaan / eksposur yang normal pada sebuah subjek. Entah itu subjek berwarna gelap ataupun subjek berwarna cerah, semuanya akan diubah ke Gray 18%. Perlu dicatat juga bahwa grey 18% ini bukan maslah warna namun mengarah ke kecerahan.

Seperti penjelasan di atas, bahwa ketika metering mengukur subjek berwarna gelap seperti coklat tua, maka metering menganggap subjek tersebut sebagai "gelap" dan kekurangan cahaya, sehingga hasil pengukuran metering mengharuskan kamera perlu disetting untuk mendapatkan cahaya yang banyak, agar subjek bisa mendapatkan eksposur yang normal. Lantas bagaimana kamera mengetahui apakah eksposur pada subjek sudah normal atau belum? Jawabannya adalah ketika subjek tersebut memiliki kecerahan seperti Gray 18%. Paham? Dan karena prinsip kerja ini sehingga warna coklat tua pada subjek mungkin akan berubah menjadi lebih cerah mendekati coklat muda. Mengapa bisa? Karena warna subjek sudah dipengaruhi intensitas cahaya yang tinggi.

Begitupula halnya ketika metering mengukur subjek berwarna cerah seperti warna putih. Menurut prinsip kerja metering bahwa putih terindetifikasi "kelebihan cahaya (over exposure)", sehingga metering mengharuskan kamera perlu disetting untuk mengurangi pencahayaan pada subjek tersebut, hingga batas kecerahan seperti Gray 18%. Dan akibatnya warna putih tidak akan lagi terlihat "putih cerah" dan akan sedikit memudar. Berikut ilustrasi cara kerja Gray18%:


Kesimpulannya, apapun intensitas warna pada subjek yang Anda fokuskan, jika Anda ingin subjek tersebut dalam kondisi eksposur yang normal, maka "mau tak mau" subjek harus memiliki kecerahan Gray 18%.
Untuk membuktikan teori tersebut, maka mari kita laukan percobaan seperti berikut:


  • Siapkan 1 baju warna putih dan 1 baju warna hitam, kemudian letakkan secara berdampingan.
  • Gunakan mode pemotretan Program (P) agar lebih mudah melihat perbedaan eksposur pada kedua subjek.
  • Selanjutnya aktifkan mode "Life View" untuk melihat subjek secara langsung melalui monitor LCD kamera (bukan lewat viewfinder).
  • Sekarang "geser fokus" ke baju warna hitam menggunakan tombol navigasi kamera. Usahakan fokus tidak keluar dari area baju hitam.

  • Perhatikan informasi di light meter, karena ini mode Program (P) maka titik indikator dalam light meter akan "selalu" berada di tengah sekalipun Anda merubah ISO. Titik di tengah menandakan eksposur dalam keadaan normal.
  • Sekarang geser fokus ke baju warna putih dan usahakan fokus tidak keluar dari area baju putih. Nah, di sinilah Anda akan melihat eksposur atau pencahayaan "menurun" secara drastis, akan tetapi titik dalam light meter masih berada di tengah yang artinya eksposur masih dalam keadaan normal.



  • Tapi coba Anda geser kembali fokus ke baju warna hitam, maka eksposur akan kembali seperti semula, sedangkan titik dalam light meter masih tetap di bagian tengah. Berikut hasil gambar dari percobaan yang saya lakukan:

Dalam melakukan eksperimen di atas, saya menggunakan tempat yang sama dan dalam kondisi pencahayaan yang sama pula, tapi mengapa hasilnya bisa berbeda? Mengapa Gambar A lebih terang dari Gambar B? Padahal metering menunjukan indikator yang sama? Untuk menjawab ini maka Anda harus memahami 2 hal:


  • Metering hanya mengukur subjek atau bagian dari subjek yang "difokuskan". Intinya di mana Anda meletakkan titik fokus, di situ metering melakukan pengukuran.
  • Karena hanya mengukur bagian yang difokuskan saja, sehingga konsekuennya bisa menyebabkan bagian atau area lainnya menjadi over exposure atau under exposure.

Itulah alasannya mengapa Gambar A di atas lebih "terang" ketimbang Gambar B. Karena metering merekomendasikan program untuk menambah cahaya ketika fokus diletakkan pada baju warna hitam, sehingga konsekuennya menyebabkan area sekitar baju menjadi kelebihan cahaya (over exposure).

Namun ketika fokus di letakkan di baju putih, metering malah merekomendasikan program untuk mengurangi cahaya sehingga menyebabkan area selain baju menjadi kekurangan cahaya (under exposure).


Nah, berangkat dari situlah sehingga kebanyakan orang "salah paham" dengan cara kerja metering. Mereka menganggap bahwa metering bisa keliru dan menyebabkan penyimpangan eksposur. Padahal cara kerja metering memang sudah seperti itu.


Jenis-Jenis Mode Metering

Beberapa jenis metering yang umum terdapat didalam kamera adalah :
  •        Spot Metering
  •         Patrial Metering
  •        Center Weighted Metrering
  •         Evaluativ/Matrix Metering

Spot Metering
Spot Metering : Pada mode ini metering hanya akan mengukur pencahayaan pada area titik fokus tengah dengan jangkauan yang sangat sempit sekitar 1-5% dari seluruh adegan dan mengabaikan semua area diluar titik fokus tengah. Secara default mode Spot ini akan mengukur pusat frame, namun kemungkinan teknologi metering akan mengalami pengembangan untuk DSLR kelas pro sehingga bisa saja mode Spot tidak hanya mengukur titik fokus tengah saja, tetapi juga bias bekerja dititik focus lainnya.
Mode ini bisa Anda gunakan untuk memotret subjek utama yang kurang cerah dibandingkan area sekitarnya, seperti memotret seseorang pada posisi backlight (posisi dimana subjek membelakangi matahari), memotret bulan atau memotret pertunjukan teater di mana para actor berdiri didepan tirai yang gelap dan semar.


Intinya dengan mode Spot ini fotografer akan berfokus menghasilkan eksposur normal pada area titik fokus tengah, misalnya ketika titik fokus tengah diarahkan ke wajah manusia. Persoalan bagaimana kadar eksposur diluar area itu bukan lagi bagian dari pengukuran dari mode ini. Jadi konsekuennya adalah jika berdasarkan pengukuran mode Spot menyimpulkan bahwa wajah subjek lebih gelap dari area sekitarnya, kemudian kita mencoba mengatur kembali settingan kamera agar wajah subjek bisa mendapatkan eksposur normal, maka akan menyebabkan area sekitar wajah subjek yang tadinya sudah cerah akan kelebihan eksposur. Alasannya seperti yang saya katakan di atas, pengukuran berprioritas pada area titik fokus tengah. Ini juga berkaitan dengan penjelasan saya tentang cara kerja metering kamera.
Patrial Metering
Patrial Metering : Cara kerja mode ini masih sama dengan mode Spot di atas yaitu berkonsentrasi pada area titik fokus tengah. Hanya saja pada mode Partial ini metering akan jangkauan pengukuran lebih luas sekitar 10-15% dari keseluruan adegan. Mode ini juga bisa diandalkan untuk memotret dalam posisi backlight. Sedangkan konsekuennya juga sama seperti kasus wajah subjek yang saya jelaskan di atas. Intinya hampir semua mode metering memiliki cara kerja yang sama, yang hanya mengukur area tertentu dan mengabaikan area lainnya.

Center Weigted Metering
Center Weigted Metering : Mode Center Weighted juga masih menggunakan cara kerja yang sama dengan kedua mode di atas begitupula dengan konsekuennya. Namun pada mode ini metering akan mengukur cahaya pada bagian tengah dalam jangkauan yang lebih luas sekitar 60-80% dari seluruh adegan, sedangkan area lainnya akan diabaikan. Mode Center Weighted ini sering kali direkomendasikan ketika mengambil gambar Close-Up. Tapi tergantung juga bagaimana kondisi pencahayaan yang Anda hadapi

Evaluative / Matrix Metering
Evaluative / Matrix Metering : Bila pada Canon mode metering ini disebut Evaluative maka pada Nikon mode ini disebut Matrix. Hanya perbedaan nama namun fungsinya sama. Pada mode ini metering akan mengukur pencahayaan secara menyeluruh namun lebih memprioritaskan area dimana Anda meletakkan titik fokus. Mode Evaluative / Matrix ini merupakan mode default metering yang memang sangat cocok digunakan bila Anda tidak mau repot lagi menganalisa kondisi Pencahayaan dan bagaimana dampak pada subjek utama.

Dari penjelasan mode-mode metering di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa semua mode metering memiliki dasar kerja yang sama. Mengapa penjelasan diawali dari mode Spot agar Anda bisa mudah memahami cara kerja mode berikutnya. Kemudian luas area yang diukur oleh metering secara bertahap meningkat dari mode Spot sampai ke mode Center Weighted. Intinya metering hanya akan mengukur luas kecilnya area sesuai jangkauan yang diberlakukan oleh masing-masing mode, kecuali pada mode Evaluative / Matrix yang bekerja secara khusus.

Kesimpulan akhir bahwa tidak ada metering yang bekerja sempurna. Yang seharusnya Anda pahami bahwa sebagai fotografer Anda harus pintar memilih mana bagian dari adegan yang harus diprioritaskan dan siap menanggung konsekuen untuk bagian lainnya. Mustahil pada kondisi pencahayaan yang rumit Anda mengharapkan pencahayaan bisa stabil dan merata ke seluruh area, melainkan pada pemotretan terkendali dalam studio menggunakan sejumlah lighting. Oleh karenanya fotografer perlu mempertimbangkan olah digital sebagai upaya perbaikan pencahaayaan yang tidak merata.



0 Response to "Memahai Fungsi dan Jenis Metering dalam Kamera DSLR"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel