Vihara Dharma Kaya Pesona Eropa

Photo By : Lidya A. Nisa

Vihara Dharma Kaya merupakan tempat peribadahan budha yang terletak didaerah Jl. Siliwangi, Bogor Timur. Sebelum menjadi nama Vihara Dharma Kaya dulu tempat ini bernamakan Kwan Im Bio menjadi wihara Dewi Chandra Naga Sari, dan sekarang berubah menjadi vihara Dharmakaya. Wihara ini dikelola oleh Wihara Vajra Bodhi yang bertempat di Tajur, Bogor. Awalnya bangunan Vihara Dharmakaya ini merupakan tempat retret milik keluarga tuan tanah Tionghoa di Buitenzorg (nama lama Bogor). Dulu, daerah sekitar vihara ini masih seperti Kebun Raya Bogor. Banyak dihuni oleh aneka tanaman yang besar-besar sehingga menjadi tempat yang nyaman dan sejuk untuk melakukan retret atau mensunyikan diri dalam konteks beribadat. Tidak diketahui dengan pasti umur dari bangunan vihara ini, akan tetapi diperkirakan umur bangunan vihara ini jauh lebih muda dibandingkan dengan
Klenteng Hok Tek Bio maupun Klenteng Pan Kho Bio. Kemudian oleh ibu tuan tanah Kwitang yang bernama Teng Oen Giok, tempat retret tersebut disumbangkan kepada Ma Suhu Tan Eng Nio pada awal tahun 1940-an. Suhu Tan Eng Nio merupakan seorang biarawati yang memiliki rambut panjang terurai yang gemar mengenakan pakaian putih dan memakai kain batik panjang.
Kemudian tempat retret ini berkembang menjadi vihara dan dibuka untuk umum. Vihara tersebut diberi nama Vihara Dharmakaya. Dalam formulasi doktrin Tri kaya, Dharmakaya adalah kebenaran yang tertinggi atau ketiga (parinispanna). Dharmakaya itu sendiri merupakan Sanghyang Adi Buddha atau Tuhan Yang Maha Esa. Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 2.000 m² ini memiliki bentuk seperti villa di mana di samping kirinya terdapat menara, dan arsitekturnya merupakan perpaduan khas Tionghoa, Eropa maupun lokal. Hanya bagian depannya saja yang mempelihatkan bahwa bangunan itu merupakan vihara, yang ditandai atap bangunan utamanya yang khas Tiongkok dengan diberi ornamen naga serta bercat warna merah, Dalam tradisi Cina, naga merupakan simbol kekuatan “Yang” dan simbol kesuburan. Naga pun dapat dimaknai sebagai lambang supremasi kekuatan tertinggi dalam dunia mitologi Cina. Sementara, imaji bulatan berambut api dapat diinterpretasikan sebagai mutiara, matahari, atau bulan.  Sedangkan, pada bagian dalam bangunan ini lebih menyerupai rumah ketimbang sebuah vihara.

Meski memiliki halaman yang cukup luas, vihara ini terlihat sepi atau tidak seramai dengan pengunjung yang ada di Klenteng Hok Tek Bio, dikarenakan letaknya yang agak jauh dari kawasan Pecinan Surya Kencana sehingga menjadikan vihara ini kurang begitu terkenal dibandingkan dengan vihara lainnya. Bangunan ini lebih terkenal karena bentuk bangunan yang unik. Siapapun yang melintas Jalan Siliwangi yang merupakan terusan jalan dari Jalan Surya Kencana ini, akan menolehkan pandangan sejenak untuk menikmati pesona bangunan yang mirip dengan bentuk bangunan villa.(Penulis : Lidya A.Nisa/PNB3A/2017)

0 Response to "Vihara Dharma Kaya Pesona Eropa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel