Tana Toraja, Warisan Nenek Moyang

Photo By : Ira Mahmuda
Tana Toraja merupakan salah satu suku di Sulawesi Selatan. Tana Toraja juga bisa menjadi ikon wisata Sulawesi Selatan karena wisata budaya dan peninggalan arsitektur nenek moyang mereka yang berupa rumah adat Tongkonan. Rumah Tradisional Toraja (Tongkonan) mempunyai kesamaan dengan arsitektur Rumah Tradisional Bugis, yakni dengan adanya kolong, yang berfungsi sebagai tempat ternak, seperti ayam, babi dan kerbau.

Rumah adat Tongkonan adalah rumah adat Sulawesi Selatan yang mempunyai bentuk unik menyerupai wujud perahu dari kerajaan Cina pada jaman dahulu. Rumah adat tongkonan juga kerap kali disebut-sebut mirip dengan rumah gadang dari daerah Sumatera Barat.

Tongkonan berasal dari kata “tongkon” yang berarti duduk. Rumah tongkonan sendiri difungsikan sebagai pusat pemerintahan, kekuasaan serta sosial pada elemen masyarakat toraja. Rumah adat Tongkonan tidak bisa dimiliki secara pribadi/perorangan karena rumah ini adalah warisan nenek moyang dari setiap anggota keluarga atau keturunan mereka.

Struktur bangunan mengikuti struktur makro-kosmos yang memiliki tiga lapisan banua (rumah) yakni bagian atas (rattiang banua), bagian tengah (kale banua) dan bawah (sulluk banua).

1.        Bagian atas (rattiang banua) digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka yang mempunyai nilai sakral dan benda-benda yang dianggap berharga. Pada bagian atap rumah terbuat dari susunan bambu-bambu pilihan yang telah dibentuk sedemikian rupa kemudian disusun dan diikat oleh rotan dan ijuk. Atap bambu ini dapat bertahan hingga ratusan tahun.
2.        Bagian tengah (kale banua) rumah tongkonan memiliki 3 bagian dengan fungsi yang berbeda-beda. Pertama, Tengalok di bagian utara difungsikan sebagai ruang untuk anak-anak tidur dan ruang tamu. Namun terkadang, ruangan ini digunakan untuk menaruh sesaji. Kedua, Sali dibagian tengah. Ruangan ini biasa difungsikan sebagai tempat pertemuan keluarga, ruang makan, dapur dan tempat disemayamkannya orang meninggal. Dan ruangan terakhir adalah ruang sambung yang banyak digunakan oleh kepala keluarga .
3.        Bagian bawah (sulluk banua) digunakan sebagai tempat hewan peliharaan dan tempat menaruh alat-alat pertanian. Fondasinya terbuat dari batu pilihan yang dipahat berbentuk persegi.

Ukiran Dinding
Ukiran pada dinding rumah tongkonan terbuat dari tanah liat. Ukiran-ukiran tersebut selalu menggunakan empat warna dasar yaitu hitam, merah, kuning dan putih. Bagi masyarakat toraja, empat warna itu memiliki arti dan makna tersendiri. Warna kuning melambangkan anugerah dan kekuasaan Tuhan (Puang Matua), warna hitam melambangkan kematian/duka, warna putih melambangkan tulang yang berarti kesucian dan warna merah melambangkan kehidupan manusia.


Itulah sekilas informasi mengenai rumah adat Tongkonan dari Sulawesi Selatan. Apakah kalian ada yang sudah pernah ke Tana Toraja? Jika belum, Anda tidak perlu khawatir untuk pergi jauh ke sana, karena di Taman Mini Indonesia Indah juga terdapat beberapa anjungan di seluruh Indonesia salah satunya rumah adat Tongkonan ini. Jangan lupa sempatkan untuk menikmati keindahan arsitektur rumah adat dari Tana Toraja ini. Semoga bermanfaat.(Penulis : Ira Mahmuda/PNB3A/2017)

0 Response to "Tana Toraja, Warisan Nenek Moyang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel