Proses Penjilidan Buku dengan Sistem Jahit Benang

Photo By : Agnes Frisilia Putri
Dalam dunia Grafika terdapat beberapa tahapan proses yang dilalui dalam menghasilkan sebuah hasil cetakan. Mulai dari desain, pengumpulan data, kemudian diolah menjadi sebuah pelat yang nantinya digunakan untuk proses pencetakan, kemudian yang terakhir tahapan finishing. Pada tahapan ini, terdapat hal-hal yang dikerjakan, diantarannya pengeleman, pemasangan cover, dan penjilidan. Penjilidan itu sendiri terdiri dari jilid kawat, jilid benang ataupun lem panas.

Hal ini diterangkan oleh seorang bapak yang bernama bapak Suwondo yang bekerja didunia grafika, tepatnya di Percetakan Grafika Desa Putera. Bapak ini sudah lama bekerja sama dengan Percetakan Grafika, mulai dari bagian pembuatan film sampai akhirnya bapak ini diletakan dibagian penjilidan, yaitu jahit benang.

Dalam menjalankan tugasnya, bapak ini harus memperhatikan banyak hal untuk menghasilkan jilidan yang maksimal. Seperti halnya unit pemasukannya, atau yang lebih dikenal dengan meja pemasukan, kemudian juga memperhatikan penempatan jarumnya, lalu saluran benangnya, dan yang terakhir dibagian unit pengeluaran.

Pada bagian unit pemasukan ini, bapak Suwondo menjelaskan bahwa unit pemasukan merupakan peralatan yang paling depan pada setiap mesin. jadi sebelum pembuatan buku terjadi, penghantaran kurasnya selalu dilubangi dengan peralatan ini. Alat pemasukan merupakan sadel tempat muatan kuras-kuras sebelum dan sewaktu menjahit.

Setelah menjelaskan unit pemasukan, bapak Suwondo juga memberi informasi mengenai penempatan jarum saat proses penjahitan. Penempatan jarum-jarum mesin jahit itu selalu dikerjakan secara bergantian atau bertahap, karena tempat penjepitnya berlainan. Pemasngan tahap pertama dinilai dari memasang jarum pengait (yang merupakan satu kelompok) dan yang kedua memasang jarum tusuk depan. Sebelum memasang jarum-jarum itu pada tempatnya masing-masing yang perlu dilakukan lebih dahulu adalah menentukan pembagian tusuk buku. Selanjutnya kita memilih atau menentukan jarum-jarumnya, kemudian disesuaikan dengan tebal tipisnya kuras atau kertas. Apabila jarum-jarum sudah diessuaikan maka menentukan lagi benang penyambungnya, jadi antara ketiga bahan ini jika kita ambil kesimpulan maka harus sesuai dan seimbang. Sebagai contoh benang yang tidak sesuai banyak menyebabkan putusnya benang itu sendiri, putusnya jarum dan rusaknya kertas atau jahitan buku. Adapun beberapa petunjuk untuk pemakaian jarum, yaitu :

1.   Jarum penjahit (sewing needles) dengan seri nomor 953/5 dan 953/V/5 adalah untuk kertas tipis sejenis kertas Bibel.
2.   Jarum penjahit (sewing needles) dengan seri nomor 666/5 dan 666 V/5 dipergunakan untuk kertas tebal dan biasa.
3.      Jarum pengait (hook needles) dengan seri nomor 218 R/5 untuk kertas tipis.
4.      Jarum pengait (hook needles) dengan seri nomor 218 R/5 untuk kertas tebal dan biasa.
5.    Jarum tusuk depan (punching needles) dengan seri nomor 685 untuk kertas biasa dan tebal.
6.      Jarum tusuk depan (punching needles) dengan seri nomor 690 untuk kertas tipis.

Dalam prosesnya saluran benang itu sendiri akan bermulai dari penempatan gelendong sampai masuk ke unit penjahitan, dimana tahapan ini melalui beberapa peralatan, diantarannya:

1.      Tempat gelendong
2.      alat perenggang
3.      alat penarik benang sampai ke jarum jahit dan akhirnya ke punggung buku.

Tahapan terakhir yang dijelaskan oleh bapak Suwondo yaitu unit pengeluaran, atau yang disebut meja pengeluaran. Karena di setiap mesin yang mempunyai meja pemasukan tentunya meja pengeluaran tak ketinggal juga. Meja pengeluaran mesin ini terdiri dari kepingan pelat baja yang disebelah menyebelahnya dilengkapi dengan alur/rel. Di atas meja ini terdapat juga alat penahan kertas yang berjalan di atas alur/rel, sehingga mudah distel maju mundur. Selain itu meja pengeluaran ini juga dilengkapi dengan peralatan tiang penyangga yang dapat mengatur naik turunnya meja. Penyetelan naik atau turunnya meja dapat dengan mudah diatur dengan memutar roda penggerak tangan yang terdapat pada sebelah kiri mesin.

Hal tersebut dijelaskan dengan runtut oleh bapak Suwondo, yang saat itu beliau sedang menjahit buku dengan sistem jahit benang, bapak ini berpesan semoga ilmu yang beliau tuangkan dapat berguna bagi kalian semua yang ingin tahu ataupun ingin menambah pengetahuan tentang ilmu grafika. Semoga bermanfaat. (Penulis : Agnes Frisilia Putri/PNB3B/2017)

0 Response to "Proses Penjilidan Buku dengan Sistem Jahit Benang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel