POS INDONESIA MENJADI SALAH SATU PENINGGALAN BELANDA


Photo by : Dinda Apriliyanti Safitri
         Gedung pos Indonesia adalah salah satu peninggalan sejarah pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Gedung ini merupakan bukti bahwa Belanda telah banyak meninggalkan gedung-gedung atau bangunan yang akan berguna bagi Indonesia di kemudian hari. Salah satunya adalah gedung pos Indonesia ini yang berada di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara tepat di depan museum Fattahillah.

          Gedung ini dirancang oleh Ir.R.Baumgartner pada 1929 dengan nama Post-en Telegraaf Kantoor. Bangunan ini dirancang dengan gaya modern awal Nieuwe Zakelijkheid. Gaya tersebut sangat terkenal pada masa penjajahan Belanda dan Hindia Belanda pada akhir tahun 1920-an. Alasan mengapa gedung dirancang dengan gaya modern Nieuwe Zakelijkheid karena disesuaikan dengan iklim Indonesia dengan dihiasi oleh “fase ganda”, elemen khas bangunan di kawasan Hindia tropis.

              Sejarah singkat awal mula kantor pos Indonesia mulai muncul. Kantor pos Indonesia pertama didirikan di Batavia (sekarang berubah menjadi Jakarta) oleh Gubernur Jenderal G.W Baron van Imhoff pada tanggal 26 Agustus 1746. Tujuan awal kantor pos ini dibuat agar menjamin seluruh surat-surat yang dikirim penduduk, terutama bagi mereka yang berdagang di luar pulau Jawa dan bagi mereka yang datang dari Belanda ataupun yang ingin pergi ke Belanda. Sejak saat itulah kantor pos mulai memiliki peran terpenting di Indonesia yang gunanya untuk menjadi pelayanan publik bagi seluruh rakyat Indonesia.

                  Setelah 4 tahun kantor pos di Batavia mulai mengalami perkembangan yang pesat mulai lah didirikan kantor pos yang berada di kota Semarang untuk mempermudah kerjasama kantor pos antara Semarang dan Batavia serta memberikan pelayanan pengiriman cepat. Rute perjalanan pos yang dilalui yaitu Karawang, Cirebon, dan Pekalongan.

                    Pos di Indonesia sendiri telah mengalami banyak perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph, dan Telephone). Badan usaha ini dipimpin oleh seorang kepala Jawatan. Tugas dari kepala Jawatan ini dalam operasinya tidak bersifat terlalu tinggi tetapi fungsinya lebih diarahkan untuk pelayanan masyarakat umum.

                       Perkembangan itu terus berlanjut hingga Pos Indonesia menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Dari semua perkembangan zaman pada masa itu dimana sektor dan telekomunikasi berkembang sangat pesat, maka mulai dari situ Pos Indonesia berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro) pada tahun 1965, dan berganti lagi menjadi Perum Pos dan Giro di tahun 1978 sejak saat itu Pos Indonesia menjadi badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos ataupun giro pos baik dalam hubungan dalam negeri maupun luar negeri. Selama 17 tahun lamanya Pos Indonesia berstatus Perum, pada tahun 1995 berubah kembali menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

                        Dengan berjalannya waktu Pos Indonesia telah mengalami banyak perubahan yang lebih baik. Kini Pos Indonesia telah menunjukkan kreativitasnya yang guanya untuk memajukan perposan Indonesia dengan memanfaatkan insfrastruktur jejaring yang dimilikinya yang mencapai sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau 100 persen kota/kabupaten, hampir 100 persen kecamatan dan 42 persen kelurahan/desa, dan 940 lokasi transmigrasi terpencil di Indonesia. Dengan berkembangnya era komunikasi dan teknologi pada saat ini Pos Indonesia telah memiliki jejaring Pos Indonesia lebih dari 3.800 Kantor pos online, serta dilengkapi electronic mobile pos di beberapa kota besar. Semua titik merupakan rantai yang terhubung satu sama lain secara solid & terintegrasi. Sistem Kode Pos diciptakan untuk mempermudah processing kiriman pos dimana tiap jengkal daerah di Indonesia mampu diidentifikasi dengan akurat.(Penulis : Dinda Apriliyanti Safitri/PNB 3A/2017)



0 Response to "POS INDONESIA MENJADI SALAH SATU PENINGGALAN BELANDA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel