PESONA SANG SURAT YANG HAMPIR PUDAR

Photo By : Kirana Putri Ersapranu
Kalian mungkin sudah tidak asing lagi dengan surat-menyurat, bahkan tak jarang pula menggunakannya sebagai sarana untuk berkomunikasi kepada orang lain. Baik surat yang bersifat formal ataupun nonformal.

Ya, surat merupakan salah satu media komunikasi yang sampai saat ini masih digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dari satu orang ke orang lainnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, surat berarti kertas yang bertulis atau secarik kertas sebagai tanda atau keterangan sesuatu yang ditulis. Sedangkan surat-menyurat adalah kegiatan untuk mengadakan hubungan secara terus-menerus. Umumnya, surat biasa digunakan untuk menjalin hubungan secara luas, memberikan ucapan selamat ulang tahun, atau sekadar tukar-menukar pengalaman dan pengetahuan.

Jauh sebelum ditemukannya kertas, orang menulis surat pada daun pelepah pohon atau kulit binatang. Kegiatan surat-menyurat pertama kali dimulai di Mesir pada 2000 SM. Saat itu surat ditulis pada sebuah mangkuk atau kain linen, kemudian di bungkus dengan kain, kulit binatang, atau sayuran untuk dikirim. Sedangkan di Indonesia sendiri, tradisi surat-menyurat sudah ada sejak zaman kerajaan. Surat di tulis di atas batu, kayu, atau kertas yang terbuat dari kulit bambu. Tradisi menulis surat semakin berkembang pesat ketika Belanda datang ke Indonesia.

            Namun, seiring berjalannya waktu kegiatan berkirim surat semakin jarang ditemukan. Usang. Terabaikan. Manusia di era modern seolah sudah ‘muak’ berhadapan dengan kertas. Menulis surat dianggap sebagai hal yang tidak efektif di zaman yang serba cepat dan instan. Bersosialisasi jauh lebih mudah menggunakan internet dengan fasilitas jejaring sosial media seperti facebook, twitter, instagram dan semacamnya. Jika dulu, ketika masih duduk di sekolah dasar kita pernah merasakan punya sahabat pena lewat berkirim surat, kebiasaan seperti ini justru akan menjadi sesuatu yang tabu dan asing pada masa sekarang.

Buat apa repot-repot menulis surat pada lembaran kertas? Toh, sekarang kita bisa lebih mudah bertukar pesan lewat smartphone pakai email, sms dan media sosial. Informasi bisa langsung dengan cepat tersebar, kan?
SALAH BESAR. Menulis di atas sebuah kertas memang terkesan kuno, tapi memiliki kesan tersendiri. Membuat kita lebih banyak berpikir mengenai apa yang hendak kita sampaikan supaya kita tidak perlu menulis kembali jika terdapat kesalahan. Memilih secara hati-hati kata apa yang akan kita gunakan agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Kita juga bisa leluasa mengekspresikan seluruh isi hati yang tidak bisa diucapkan oleh lisan tanpa harus takut dengan reaksi yang nantinya akan kita dapat. Belum lagi, perasaan ‘deg-degan’ yang kerap menghampiri ketika menunggu dan menerima surat datang. Manfaat lain menulis surat adalah bisa dengan mudah kita simpan kalau ingin membacanya kembali di lain waktu.

Sangat berbeda saat kita menulis pesan di media sosial atau aplikasi chatting. Orang cenderung akan langsung menulis apa yang ingin ia utarakan tanpa berpikir. Tulisan tersebut justru menjadi kurang makna ketika terpampang di layar ponsel, yang terkadang disingkat dan tidak disenyawai oleh jiwa penulisnya. Bahkan ada yang kadang kala lebih memilih berbicara langsung untuk mengutarakan isi hatinya kepada lawan bicara. Hal ini bisa membawa dampak yang kurang baik, karena ketika seseorang berbicara spontan tentang isi hatinya, ia cenderung tidak menyaring terlebih dahulu kata apa yang akan ia lontarkan dan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Kemajuan teknologi di bidang komunikasi memang tidak perlu diragukan, hingga mampu membuat seseorang dengan cepat ‘berpindah hati’ kepada hal-hal baru guna mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seolah seperti mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kondisi seperti ini tentu tidak bisa disalahkan. Hanya saja kita harus memahami, bahwa ketika menemukan sesuatu yang baru tidak berarti harus melupakan sesuatu lainnya.

Era globalisasi yang ditandai dengan semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi, suatu saat nanti mampu membuat pesona sang surat memudar. Menurunnya minat untuk menulis dan hilangnya sentuhan imajinasi juga ekspresi emosional adalah hal yang sedang dihadapi masyarakat saat ini. Tidak menutup kemungkinan, surat secara perlahan hanya akan menjadi sekadar bentuk formalitas semata. Punah. Tinggal kenangan. (Penulis :Kirana Putri Ersapranu/PNB 3A/2017)

0 Response to "PESONA SANG SURAT YANG HAMPIR PUDAR"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel