Nostalgia Perahu Kertas

Photo By : Kirana Putri Ersaprana 
            “Awas! jangan sampai miring!”
            “Sedikit lagi.. ayo.. pasti aku yang menang!”
            “Yah, tenggelam.”

            Apa yang pertama kali kalian pikirkan ketika membaca kutipan di atas? Apakah salah satunya pernah kalian ucapkan? Ya, pasti kata-kata itu terdengar tidak asing. Pada kesempatan ini saya akan membahas sedikit tentang permainan yang cukup digemari anak-anak pada tahun 90-an. Perahu kertas.
            Masa kecil adalah masa dimana kita bisa dengan bebas bermain tanpa mengenal beban. Bermain bersama teman di bawah rintik hujan saja mampu memberikan kebahagiaan tersendiri. Ketika sore datang, biasanya anak-anak kecil berkumpul di lapangan untuk memainkan berbagai permainan tradisional, seperti main petak umpet, lompat karet, bola bekel, bola kasti, kelereng, benteng, dan semacamnya. Salah satu yang tak kalah populer ialah main perahu-perahuan. Permainan wajib yang harus dilakukan ketika hujan berangsur pergi.
Dengan bahan-bahan sederhana, kita bisa membuat perahu mainan. Yang paling sering digunakan adalah kertas. Ada juga yang membuatnya dari daun, gabus, dan pelepah pisang. Biasanya sambil menunggu hujan reda, anak-anak akan membuat perahu mereka menggunakan kertas bekas dalam jumlah cukup banyak. Kalau tidak ada kertas, daun mangkok-mangkonan bisa dijadikan alternatif lain.
Namanya juga main perahu-perahuan, tentu saja syarat utamanya harus terdapat air. Genangan air dan aliran air pada selokan seolah menjadi “harta karun” buruan anak-anak untuk memainkan permainan ini. Mereka berlomba menghanyutkan perahu ke batas garis finish yang ditandai dengan batu atau tumpukan daun. Semua akan bersiap di garis start dan ketika terdengar aba-aba perahu mulai dihanyutkan. Anak-anak akan berlari di tepian selokan mengikuti laju perahu masing-masing sambil bersorak riang. Tak jarang pula ada yang bermain curang dengan melemparkan batu supaya perahu lawan tenggelam.
Bak di kamar mandi pun bisa dijadikan tempat bermain. Percikan air yang timbul dari hentakan gayung menjadi ‘tantangan’ tersendiri bagaimana cara kita mempertahankan perahu tidak goyang dan tenggelam. Hanya kalau kita terlalu lama bermain di dalam kamar mandi, suara lengkingan ibu adalah hal yang cukup menakutkan. Berbeda lagi jika permainan dilakukan di atas genangan air besar. Mereka akan membuat gelombang dengan memukul-mukul air menggunakan lidi agar perahu bisa bergerak lebih cepat untuk menentukan siapa pemenangnya. Semakin besar gelombang diciptakan, semakin banyak juga perahu yang oleng karena tidak bisa menjaga keseimbangan. Belum lagi kemungkinan perahu menjadi basah terkena cipratan air sehingga tidak bisa bergerak. Asyik, bukan?
Namun, di era sekarang kalian akan jarang menemukan momen semacam itu. Saat dimana anak-anak dengan riangnya berkumpul bersama untuk memainkan permainan perahu kertas sehabis hujan. Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi kian meningkat. Permainan tradisional makin tergerus dan secara perlahan dilupakan. Kita lebih sering menemukan anak-anak zaman sekarang berbondong-bondong memegang gadget mereka. Sesuatu yang sebenarnya justru belum terlalu diperlukan untuk membantu perkembangan anak usia dini. Masa kecil yang harusnya mereka habiskan bersama teman-teman sebayanya justru terlewatkan oleh benda kecil tak bernyawa. Memainkan permainan yang ‘lebih  modern’, yang bisa di unduh kapan saja dan dimana saja.
Dampaknya jelas terasa. Mungkin ada banyak nilai edukasi dan manfaat positif yang dapat diberikan dari kemajuan teknologi. Tapi bukan berarti semuanya baik. Mereka dapat dengan mudah menerima informasi dan hal-hal baru tanpa penyaringan terlebih dahulu. Konten-konten menyimpang juga sangat berbahaya bagi moral mereka. Kepekaan terhadap lingkungan sekitar menjadi sangat kurang. Anak-anak akan jarang memperhatikan lingkungan dan orang-orang di sekitar mereka sehingga timbul kurangnya rasa empati terhadap sesama. Mereka seolah hanyut dalam dunianya sendiri. Selain itu, terlalu lama menatap layar ponsel bisa merusak mata dan sistem kerja otak.  Kecanduan bermain gadget juga bisa membuat prestasi belajar di sekolah menurun atau bahkan menghambat perkembangan psikologis anak.

Untuk itu, sangat diperlukan peranan orang tua dalam mengawasi aktivitas buah hati mereka. Tidak ada yang melarang penggunaan gadget bagi pertumbuhan anak. Tapi ada baiknya jika penggunaannya dibatasi sesuai kebutuhan. Akan lebih baik jika masa kanak-kanak mereka dihabiskan untuk membangun memori bersama orang-orang tersayang dan teman-teman sebayanya. Sehingga kelak mereka memiliki cerita yang bisa dikenang ketika dewasa nanti. Seperti nostalgia bermain perahu kertas di kala hujan, hehe :p (Penulis:Kirana Putri Ersapranu/PNB3A/2017)

0 Response to "Nostalgia Perahu Kertas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel