MENGINGAT MASA SILAM MELALUI ARSITEKTUR


Photo by : Miftahul Janah/Rahmi

Sebelum abad ke-19 arsitektur hanya berdesain budaya Eropa, Cina, dan Indonesia. Kemudian pada abad ke-19 mulai berkembang arsitektur berunsur modern. Perubahan pada arsitektur ditandai dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi. Hal ini membuat para ilmuwan terus melakukan pembaharuan yang memperkaya ranah arsitektur itu sendiri. Para ilmuwan tersebut berambisi menggunakan gaya arsitektur tersebut sebagai sumber idenya, bukan seni dengan perasaan. Sehingga, terciptalah arsitektur berunsur populer maupun kombinasi antara modern dan budaya. Bahkan, arsitektur kini ditandai dengan penyederhanaan ide-ide yang dimiliki oleh para ilmuan.

            Arsitektur modern dengan perpaduan desain populer, sosial budaya maupun populer budaya kini telah melekat pada kehidupan masyarakat. Selain di negara tetangga, di kota-kota besar Indonesia pun terdapat bangunan berarsitektur modern dengan kombinasi arsitektur budaya. Tidak hanya unsur budaya Indonesia yang melekat melainkan unsur budaya Eropa kini menjadi suatu trend. Di era modern ini, banyak arsitektur ditandai dengan inovasi baru yang mengimbangi selera anak-anak muda. Gaya arsitektur tersebut lebih dominan pada unsur barat yang kini menjadi minat terbesar di Indonesia.

            Arsitektur yang awalnya berbentuk rumit kini menjadi lebih sederhana dan memiliki nilai estetika tinggi. Walau hanya dengan material bangunan senderhana, namun berbagai inovasi modifikasi memberi kesan tersendiri. Dahulu para ilmuwan mengembangkan gaya arsitekurnya untuk mewujudkan mimpi atau khayalan manusia. Selain itu, mereka bertujuan untuk menyadarkan manusia akan budayanya dan masa silam. Namun, kini desain arsitektur seperti ini menjadi salah satu strategi pemasaran bagi sebuah perusahaan ataupun usaha lainnya.

Photo by : Miftahul Janah/Rahmi
            Pada umumnya, desain berbentuk sederhana banyak digunakan oleh berbagai kafe maupun restoran. Bahkan, desain sederhana bisa digunakan juga dalam arsitektur rumah dan bangunan-bangunan lainnya. Hanya saja yang membedakan antara arsitektur kafe dengan arsitektur rumah ialah kesan yang terdapat pada arsitekturnya. Pada arsitektur kafe memberi kesan unik dengan estetikannya yang tinggi. Sedangkan, arsitertur rumah lebih memberi kesan ‘mewah’. Ornamen-ornamen juga dapat memengaruhi kesan dari keunikan banguan-bangun tersebut.
            Kini dalam arsitektur perubahan mendasar terjadi antara lain dalam ornamen atau hiasan yang di tempatkan dalam perspektif lebih bebas dibanding dengan struktur dan ruang. Setiap bangunan memiliki ciri khas pada ornamennya masing-masing. Misalnya, ornamen yang menggambarkan suasana Eropa. Selain itu, bangunan memiliki furniture yang mampu mendukung ciri khas dari ornamen-ornamen tersebut. Contohnya, sofa atau bangku yang di desain sesuai konsep bangunan. Namun, pada bangunan-bangunan internasional style hanya terdapat sedikit komposisi bangunan atau tanpa ornamen. Setiap bangunan juga memiliki perbandingan tata letak  interior masing-masing dari segi fungsionalnya. Misalnya, interior pada sebuah cafe atau restoran memiliki ruangan tersendiri yang dikhususkan untuk “SMOKING AREA” dengan “NO SMOKING AREA”.

            Dengan demikian arsitektur tidak hanya terdiri dari unsur estetika semata. Namun dibutuhkan media pendukung yang dapat memberi nilai lebih pada sebuah arsitektur. Media pendukung tersebut antara lain, seperti berbagai macam ornamen, bentuk furniture, maupun interior dan eksterior.(Penulis : Rahmi Lis /Miftahul Janah/PNB 3B/2017)

0 Response to "MENGINGAT MASA SILAM MELALUI ARSITEKTUR"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel