Jangan Coba-Coba Bermain Kata!

Photo By : EsterAjeng Budi Kirana
Jangan coba-coba bermain kata! Sifatnya sensitif. Apa yang kalian ciptakan menggunakan kata-kata melalui tulisan maupun ucapan sama saja mengeluarkan isi hati yang sedang dirasakan. Biasanya manusia memanfaatkan kata menyesuaikan keadaan. Iya, apabila patah hati tidak jauh dari kosakata menjurus pada istilah ‘bawa perasaan’ (baper). Begitupula sebaliknya, sukacita seseorang pun dapat terdengar jelas jika ia menyebutkan kata-kata yang membawa dirinya dan orang lain berbagi kebahagiaan. Maka demikian, komunikasi kita terhadap masyarakat sangatlah penting dalam attitude berbicara.
Ratusan kata ditemukan tidak hanya berujung sekedar bercakap-cakap antara dua makhluk. Sudah banyak sastrawan Indonesia berekspresi atas dasar jiwa dan raganya berbalut kata-kata yang mengandung majas. Mereka secara bebas menuangkan rasa serta hasratnya melalui tulisan penuh makna. Salah satu contohnya puisi. Puisi sebagai produk dari sastra dapat digunakan sebagai alternatif mengasah pikiran dan kalbu manusia, juga sebagai alternatif  mematangkan moral manusia. Karena di dalam batang tubuh puisi terkandung nilai-nilai serba majemuk. Ada nilai buruk-baik, terang-gelap, berat-ringan, enak dan tidak enak, komunikatif atau tidak. Tetapi yang lebih diutamakan adalah kualitas bentuknya. Pada puisi yang sederhanapun manusia masih bisa mendapatkan hikmah yang baik. Beberapa sumber mengatakan puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata sebagai medianya yang menekankan pada unsur perasaan sebagai hasil penghayatan kehidupan manusia totalitas yang dipantulkan oleh penciptanya dengan segala pribadinya, pikirannya, perasaannya, kemauannya dan lain-lain. Puisi dalam kenyataannya beragam gaya dan aliran yang dianutnya. Untuk menetukan suatu puisi itu baik atau buruk, tidak dapat ditentukan dengan menilainya dari satu segi saja. Banyak penyair yang berpandangan bahwa puisi yang baik adalah puisi yang berada ditengah-tengah antara terang dan gelap. Artinya puisi tersebut di mata penikmatnya tidak susah untuk diselami, tetapi juga tidak terlalu gampang, tidak ringan, dan tidak telanjang apa adanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) puisi diartikan sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Seperti kutipan puisi dengan judul “STANZA” sebagai berikut:

“Demikianlah, maka gelap merambat
melewati udara dan kaca jendela
hingga ke pintu, menahan pekat
segala luka memerah di akhir senja

Tidak ada isyarat atau makna …”

Kegundahan penyair tersebut tersampaikan jelas kepada pembaca. Ia menggambarkan perasaannya, ya kata-kata puitis itulah pedomannya. Mungkin dalam benaknya, sajak ialah jalan keluar selagi jenuh. Permainan diksi disertai sentilan majas sederhana menimbulkan kesan apik tersendiri.

Seorang penyair juga tidak lekang oleh waktu tatkala esok atau dini hari menghampirinya. Ibarat telah ‘dikontrak’ oleh selembar kertas dan pena. Bisa dibilang kertas tempat curhat pertamanya. Menumpahkan segala suka duka sepanjang hidupnya.
(penulis : EsterAjeng Budi Kirana/PNB 3A/2017)

0 Response to "Jangan Coba-Coba Bermain Kata!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel