Ibu, Dia Orang yang Mulia

Photo by : Andro Satrio

Potret di atas menunjukkan betapa besarnya perjuangan seorang ibu. Kasih sayang seorang ibu itu lebih besar dari apapun. Seluruh hidupnya ia abdikan hanya untuk membahagiakan keluarga. Ia rela tak terlihat cantik, lusuh, kumal. Semua tak dipikirkannya, ia memang tak peduli terhadap dirinya, yang ia pikirkannya cuma satu, keluarga.

             Dia, Ibu, tak pernah berkeluh kesah. Ia memilih menjadi sederhana. Semua sedih, luka, dan duka ia jadikan bahagia. Di wajahnya yang terpancar selalu senyuman, meskipun di balik itu ada pahit kehidupan yang harus ia jalani. Ringkih tubuhnya ia acuhkan, ia hanya gigih memberikan bahagia. 

            Terik matahari, debu, hujan sudah menjadi teman karibnya. Ia rela bekerja, membanting tulang demi kehidupan anak-anaknya. Ia tak mesti malu, pekerjaan apapun ia kerjakan asalkan anak dan keluarganya dapat makan. Sakit tak pernah dirasanya, lapar dan haus yang datang pun ia singkirkan. Dia menjadi orang yang paling berani, berani memberikan waktu dan hidupnya, bukan untuk dirinya. Ia memberi anak-anaknya makan enak, sedangkan ia hanya makan dengan seadanya.

            Di balik pendidikannya yang rendah, ia bahkan lebih pintar dari profesor sekalipun. Pelajaran-pelajaran yang ia berikan sangat berharga. Ya, pelajaran kehidupan. Nasihat dan petuahnya seakan sebuah jembatan kehidupan. Ya itulah ibu, kata-kata seperti tak cukup menggambarkan ketulusannya. Ia luar biasa.

            Lantas, dengan begitu besarnya pengabdian yang ia telah berikan, apa yang kita balas sekarang? setiap jerih lelahnya kita balas dengan membangkang. Pengabdiannya, kasihnya, dan cintanya tak pernah kita hargai. Yang ada kita hanya menuntut, menuntut, dan menuntut tanpa pernah berfikir betapa susahnya ia berjuang.

            Sembilan bulan sepuluh hari kita dikandung. Kita dilahirkan, disusui, dimandikan, disuapi. Berbelas bahkan berpuluh-puluh tahun kita dijaga dan dirawatnya. Tapi, setelah dewasa, kita acuh terhadapnya, kita biasa padanya. Bahkan, kehadirannya dirasa tak berarti bagi kita. Ia dianggap hanya pengganggu dalam hidup kita.

            Kelembutannya kita balas dengan kata-kata kasar. Nasihatnya seperti angin lalu saja bagi kita. Petuahnya kita anggap sebagai sebuah kekangan. Di setiap malam ia selalu mendoakan kita, tapi apakah kita pernah berdoa untuknya? yang ada kita hanya membuat air menetes dari matanya. Sejahat apapun kita, ia tetap menjadikan kita bagian darinya. Sedangkan, kita sendiri malu mengakui dia adalah orang tua kita. Ia tak pernah berharap apa-apa dari kita, sedangkan kita terus merongrong padanya.

            “Adilkah ini? Adilkah?” perlakuan “istimewa” yang ia berikan kita balas dengan perbuatan yang “najis.” Beribu-ribu kasih mulianya kita balas dengan beribu-ribu luka.


            Tapi, ibu tetaplah ibu. Dihatinya tak kenal kata dendam. Ia selalu menerima, menerima segala kekurangan. Cintanya selalu ada dan tak akan pernah padam meski banyak sakit yang sudah kita berikan
.Lokasi pengambilan foto didaerah Jl. Margonda raya.(penulis : Andro Satrio/PNB3C/2017)

0 Response to "Ibu, Dia Orang yang Mulia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel