Da Vinci: Dari Alat Masak Hingga Furnitur Mewah


Photo by : Andro Satrio/M.IbnuRiyandha
Ada pemandangan yang sedikit menarik perhatian ketika melintasi seputaran jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Pemandangan yang dimaksud adalah Gedung Da Vinci. Gedung ini berdiri di atas lahan sekitar 100 square feet. Memiliki ketinggian 177 meter, gedung ini menjadi salah satu gedung pencakar lagit di Jakarta.

            Gedung dengan 34 lantai ini dibagi menjadi 2 bagian, 12 lantai digunakan sebagai ruang pameran one stop shopping produk-produk Da Vinci Collection dan Da Vinci Presentation, sedangkan 22 lantai sisanya dijadikan 38 unit penthouse super mewah yang  fully furnished. Da Vinci sendiri diambil dari nama pelukis Italia, Leonardo Da Vinci. Tak ayal, karya masterpiece-nya, lukisan Mona Lisa, dipampang jelas di depan pintu utama Da Vinci. Gedung ini juga menjadi lambang kesuksesan mereka dalam mengembangkan bisnis.

Arsitekturnya bergaya khas eropa abad pertengahan yang terlihat jelas dari gedung ini. Karena hal itu, gedung ini menjadi salah satu landmark di Jakarta. Sang empunya yang juga merupakan sepasang suami istri ini, Tony dan Doris Phua awalnya menggagas terbentuknya gedung ini sebagai media bisnis mereka.

            Mulanya, Doris pada tahun 1978 bekerja sebagai salah satu demonstator di perlengkapan masak bermerek Fissler asal Jerman. Lambat laun karena ketekunannya, pada tahun 1980 ia naik jabatan menjadi distributor produk. Bahkan karena kinerjanya yang sangat baik, ia sempat dianugerahkan sebagai importir Fissler tersukses di Asia.

            Hingga, pada tahun 1993, Doris mengunjungi pameran produk furnitur terbesar di Milan, Italia. Kemudian, sepulangnya dari Italia, ia bersama Tony Phua mendirikan Da Vinci di negeri asalnya, Singapura. Mulai saat itu Da Vinci bukan lagi sebagai distributor peranti masak melainkan menjadi distributor furnitur kelas premium. Selanjutnya, pada Agustus 1994 mereka mendirikan PT Davicindo Nusantara (DN) sebagai anak bisnis Davinci di Indonesia. Dengan didirikannya Davinci di Indonesia, hal ini menjadi yang pertama di negara yang dipercayakan di luar negeri asalnya. Da Vinci di Indonesia (DN) kini mempunyai lebih dari 350 karyawan.

            Atas kesuksesnya membangun bisnis tersebut, Dori dianugerahi penghargaan Woman Enterpreneur of the Year 2001 dari Association of Small and Medium Enterprises (ASME), serta Montblanc Businesswomen Award 2002. Sementara itu, Da Vinci meraih penghargaan Singapore Promising Brand Award dari ASME pertengahan 2003.


            Mereka menuturkan, salah satu kunci sukses dalam berbisnis ialah memelihara sense of belonging di kalangan karyawan. Mereka menjelaskan, sedikitnya ada tiga nilai yang mereka tekankan dalam bisnisnya ini tak terkecuali bagi pemilik sekalipun. Pertama strong capability, kedua hardworking attitude, dan yang terakhir adalah luck. Elemen-elemen tersebut memiliki porsi yang sama dan harus dijalani dengan seimbang. "Kami berusaha menghargai jerih payah awak perusahaan. Tanpa mereka, kami bukanlah siapa-siapa," pungkasnya.
(Penulis : Andro satrio/M.Ibnu Riyandha/PNB 3C/2017)

0 Response to "Da Vinci: Dari Alat Masak Hingga Furnitur Mewah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel