Bangunan Masjid Raya Baitul Ma'mur Mengkolaborasikan Budaya Betawi Dengan Budaya Jawa

Photo by : Hanna Lestari
Masjid Raya Baitul Ma'mur ini berada di Kawasan Perkampungan Budaya Betawi tepatnya beralamat di jalan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Masjid ini merupakan masjid tertuadi wilayah Srengseng Sawah dan merupakan masjid kebanggan masyarakat betawi khususnya yang berada di Srengseng Sawah. Mengapa demikian, karena masjid ini sangat kental dengan nuansa betawi jika dilihat dari ornamen-ornamen  yang menghiasi seluruh bangunan masjid. Ornamen-ornamen itu dibuat dari kayu jati dan lantainya terbuat dari beton dilapis granit.

            Masjid yang mengkolaborasikan budaya Betawi dengan budaya Jawa ini dibangun sekitar tahun 1963. Sebelum resmi dinamakan masjid Raya Baitul Ma'mur, masjid ini melalui banyak perjuangan, salah satunya adalah bongkar pasang. Atas dasar alm. H. Amat, Alm. H. Amit, dan Alm. H. Miat untuk memindahkan masjid tetsebut sejauh 500 m dari tempat asal dengan alasan masjid ini tidak terawat karena masjid ini dahulu merupakan mushala pada zaman Belanda yang terbuat dari batu merah dan berbau dinding bambu. Mushala ini diberi nama Jami Al-Falah.

            Tak hanya itu masjid ini dibangun tidak hanya untuk ibadah saja tapi untuk pendidikan juga. Biasanya dikenal dengan madrasah Al Hidayah, letak sekolahnya pun bersebelahan dengan masjid. Madrasah yang dikepalai H.M.Toeis. Aminudin ini berkembang pesat sampai tahun 1974.

            Pada tahun 1970 mushala Jami Al-Falah digeser kembalidan dibangun di atas lahan wakaf H. Miat Bin H. buang. Namun hingga pada 1979, pekerjaannya tidak selesai. Karena peristiwa tersebut, pada tahun 1974 Madrasah Al-Hidayah dipisahkan dari mushala Jami Al-Falah dan dikelola oleh keluarga H. Amit.

            Di akhir tahun 1979 pada masa jabatan gubernur Tjokropranoto, mushala ini berubah nama menjadi Masjid Baitul Ma'mur dan diresmikan penggunaannya oleh beliau. Ketua pertama di masjid ini yaitu Ustadz H. Ahmad Suhaimi. Lalu pada tanggal 27 Mei 1997 ketua DKM dipegang oleh H.A Rachmat S yang diputuskan melalui rapat umum DKM.

            Kemudian masjid ini dibongkar kembali pada tanggal 20 Agustus 2002 dan material-material yang tersisa dihibahkan ke masjid yang membutuhkan. Dengan perintah Pemda DKI masjid ini dibangun kembali di bulan September dan selesai pada bulan Desember 2004. Melalui kesepakatan bersama jama'ah, masjid ini berubah nama menjadi Masjid Raya Baitul Ma'mur.

            H. Rachmat S yang menjabat sebagai ketua DKM meninggal dunia di tanggal 2 Januari 2005. Melalui rapat seluruh komponen masyarakar kemudian jabatan tersebut diganti oleh Gumin Has Spd. dan diresmikan mulai 5 Maret 2005 dengan masa jabatan 3 tahun. Sebagian lahan ini, yaitu 100 meter, berada di lahan wakaf H. Miat bin H. Buang selebihnya berupa hasil pembebasan dari H.A. Rachmat bin H. Miat. (Penulis : Hana Lestari/PNB 3C/2017)

0 Response to "Bangunan Masjid Raya Baitul Ma'mur Mengkolaborasikan Budaya Betawi Dengan Budaya Jawa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel