Di Balik Topeng

Photo by : Muhammad Ridwan Al Halim 

Dalam benak saya ketika saya melihat patung atau topeng ini muncul definisi yang berkaitan dengan manusia zaman sekarang, yaitu membohongi diri sendiri, memunculkan sifat munafik yang terpendam jauh dalam diri masing-masing manusia. Manusia-manusia zaman sekarang sangat pandai menyembunyikan perasaan mereka, baik dari kalangan atas sampai ke kalangan bawah.

Saat saya sedang hunting foto, saya pernah melihat pemandangan yang sangat mengagumkan, ketika itu saya sedang berada di kolong fly over Arif Rahman Hakim, Depok, untuk menyelesaikan tugas fotografi yang bertemakan human interest, pemandangan yang mengagumkan itu ada ketika seorang bapak memegang perut sambil mengernyitkan bibirnya, saya beranggapan bahwa bapak ini sedang menahan sakit, namun bapak tersebut memberikan sebungkus nasi sambil tersenyum dan berlagak seperti semua baik-baik saja kepada anaknya, lalu anak tersebut membalas senyum bapaknya dan membuka bungkusan nasi tersebut. Saya penasaran apa yang ada di dalam bungkusan tersebut, saya mencoba mendekati bapak dan anak tersebut dengan perlahan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Saya sedikit terkejut ketika melihat isi bungkusan tersebut karena hanya ada nasi dan teri balado. Kenapa saya sedikit terkejut ketika melihat bungkusan tersebut? Karena saya pernah melihat orang memakan sesuatu yang lebih ‘parah’ dari itu. Kembali lagi kebahasan utama, yang membuat saya kagum adalah kebohongan yang diciptakan oleh bapak kepada anaknya sangat mulia, sang bapak mungkin merasa sakit yang amat sangat tetapi menghiraukannya demi anak yang dia cintai.

180 derajat berbeda dari bapak yang tadi, kali ini ketika saya sedang melakukan aksi penggalangan dana untuk saudara-saudara yang sedang dilanda genosida di negaranya. Car free day di bunderan Hotel Indonesia sasaran saya dan kawan-kawan saya untuk menggalang dana, tidak hanya berdiam di tempat, kami juga berjalan-jalan sambil membawa kardus yang sudah ditempeli tulisan agar orang-orang yang melihat mau ikut berdonasi. Dari berbagai macam orang mau menyisihkan uang mereka, setelah selesai dari car free day kami memutuskan untuk rehat sejenak disebuah tempat makan, di sanapun kami tetap meminta donasi dari orang-orang yang sedang menyantap makanan. Ada satu kejadian yang membuat hati saya terasa perih, ketika itu teman saya mengajak dengan ramah sekelompok orang berpenampilan menengah keatas untuk ikut berdonasi, belum teman saya menyelesaikan ajakannya salah satu dari mereka mengusir dan menghardik teman saya dengan nada yang ‘nyeleneh’. Kesal dengan perkataan orang tersebut saya menghampiri mereka dengan agak kesal, belum sampai di meja makan mereka, langkah kaki saya dihentikan oleh teman saya dan dia mengajak saya untuk pergi dari tempat makan itu.


Begitu banyak cara orang-orang menutupi mata hati mereka, dari mulai berkorban dengan senyuman hingga acuh dengan cacian. Mungkin orang yang membuat patung/topeng ini juga memiliki pemikiran yang sama dengan saya.
(Penulis : Muhammad Ridwan Al Halim/PNB 3A/2017)

0 Response to "Di Balik Topeng"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel