Cerita Dibalik Tumpeng Robyong dalam Adat Jawa


Tumpeng Robyong merupakan tumpeng yang biasa dihadirkan dalam upacara khitanan, hajatan yang sifatanya bersuka cita dalam adat jawa. Tumpeng ini memiliki ciri khas yakni adanya terlur ayam, bawang merah utuh, cabai merah, dan terasi bakar diujung tumpeng yang semuanya ditusuk seperti sate dengan menggunakan bilah dari bambu atau biasa disebut sujen.
Tumpeng Robyong juga sering digunakan dalam acara siraman saat pernikahan adat jawa. Biasanya tumpeng ini ditaruh dalam bakul dengan bermacam - macam sayuran. Dan di bagian atas tumpeng ini tentu tidak lupa  ditambahkan telur ayam, terasi, bawang merah dan juga cabe.
Tumpeng ini digunakan sebagai simbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Tumpeng yang bentuknya seperti gunung ini menggambarkan kemakmuran yang sejati. Aliran air dari gunung akan dapat  menghidupi tumbuh - tumbuhan. Nah, tumbuhan yang dibentuk ribyong ini biasa disebut semi atau semen, yang maknanya hidup dan tumbuh berkembang.
Nasi yang dibentuk kerucut dan dinamakan tumpeng ini sebernya mengandung banyak makna. Bentuk kerucut ini menyimbulkan gunung yang dalam kepercayaan Jawa sering diidentikkan dengan tempat yang maha tinggi, dan tempatnya penguasa alam bertahta, dan tempat kemuliaan Allah.
Dalam kepercayaan orang Jawa, gunung adalah tempat yang sakral sebab dipercayai memiliki kaitan yang erat dengan langit dan surga. Bentuk dari tumpeng yang layaknya gunung ini, dalam tradisi Jawa mengandung makna yaitu menempatkan Allah pada posisi puncak, tertinggi, dan yang menguasai alam dan manusia.
Bentuk kerucut dari tumpeng ini juga menggambarkan bahwasannya Allah adalah awal dan akhir.  Masyarakat Jawa sering menyebut-Nya dengan Sang Sangkan Paraning Dumadi maknanya yaitu bahwa Allah adalah asal segala ciptaan dan tujuan akhir dari segala ciptaan. Tumpeng juga digunakan sebagai simbolisai dari sifat alam dan manusia yang berasal dari sang Khaliq dan suatu saat juga akan kembali kepada-Nya. Bentuk tumpeng ini juga disimbolkan seperti tangan terkatup, sama seperti saat seseorang yang sedang menyembah, hal ini juga untuk menggambarkan bahwa Allah adalah dzat yang patut disembah dan dimuliakan.
Dalam tradisi selametan yang sering dilakukan orang Jawa, puncak acaranya yaitu saat pemotongan bagian atas dari tumpeng. Pemotongan ini pun  pada umumya dilakukan oleh orang yang paling dituakan atau dihormati. Hal ini menyimbolkan bahwa masyarakat Jawa sangat memegang teguh nilai - nilai kekeluargaan dan menggambarkan bahwa orang tua merupakan figur yang sangat dihormati.
Setelah itu, tumpeng disantap secara bersama - sama. Upacara potong tumpeng ini dilakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai pentingnya kebersamaan dan kerukunan.

Waah, ternyata banyak sekali ya makna yang terkandung dalam Tumpeng Robyong ini. Jangan lupa untuk melestarikannya ya sob.

1 Response to "Cerita Dibalik Tumpeng Robyong dalam Adat Jawa"

  1. Tupeng, tradisi, adat atau kebiasaan yang memang harus dijaga. Karena kebersamaan dan saling berbagi terjadi disana

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel