Simbolik Budaya Batak dalam Seni Media Baru

Doc.POJOK_NYANTAI

Struktur Adat Batak Toba dapat dilihat dari struktur Marga, dan Marga juga dasar mendirikan Huta baru (Perkampungan yang baru), Marga raja mempunyai hak atas tanah, Pemimpin huta. Diantara Marga-marga yang ada pada Masyrakat Batak Toba terdapat hubungan pengaruh yang positif antara struktur sosial seperti pendirian huta, peradilan, system kekerabatan, dan upacara Adat Batak Toba lainnya yang tetap berlandaskan DALIHAN NATOLU yang memiliki arti sebenarnya adalah tiga golongan yang penting dalam masyarakat Batak Toba, yaitu Hula-hula, Boru, dan Dongan Tubu yang banyak orang menyimbolkan dengan tiga batu (dalihan) tungku masak dan banyak orang juga menarik kesimpulan dalihan itu berasal dari kata dalih yang bagi masyarakat batak adalah susu kerbau. Yang kelak nanti akan menerima “JAMBAR” (bagian/Cendra mata) dalamUpacara Adat Batak Toba


Adapun “Parjambaran” atau “JAMBAR” ialah berupa uang, atau juhut (daging) dalam pesta ataupun Upacara Adat Batak Toba yang wajib diserahkan oleh “SUHUT” tuan rumah kepada tiap undangan menurut kedudukan yang bersangkutan dengan hubungan kekeluargaan dengan “suhut” yang berlandaskan Dalihan Natolu Selain Jambar juhut dan Jambar uang ada juga jambar hata (memberikan kata sambutan, doa restu, nasihat danlinnya).

Uniknya bahwa Masyarakat Batak Toba pada jamuan makan dalam Semua Upacara Adat Batak Toba Selalu membagi “Parjambaran” yang dinamai “jambar Juhut” (Jambar daging) Sehabis bersantap. Sesudah itu barulah kepada undangan diberi kesempatan untuk menyampaikan kata sambutan inilah yang disebut “Jambar Hata”. Undangan yang dilupakan, walau tidak dengan sengaja, yang bersangkutan akan merasa sangat tersinggung dan akan menuntut haknya, Kadang-kadang dengan ada marah.

Simbolis “jambar Juhut” yang dibagi berdasarkan kedudukan undangan didalam upacara Adat Batak Toba adalah sebagai berikut :

  • Kepala adalah untuk “Raja” karena rajalah yang mengepalai daerahnya serta menguasai dan mengaturnya sama dengan kepala manusia atau hewan yang mengatur dan menguasai seluruh badan.
  • Leher adalah untuk “Boru” (Famili dari pihak anak perempuan kita yang sudah kawin). Leher ialah bagian badan yang menghubungkan kepala dan badan. Maka karena “boru”lah yang selalu dibuat Orang yang menjadi penghubungnya baik dalam perselisihan maupun dalam hal meminang dan hal-hal lain maka sepantasnyalah leher untuk “Boru”.
  • Paha dan Kaki untuk dongan sabutuha (Teman satu Marga). Paha dan kaki ialah bagian badan yang membuat manusia atau binatang bisa berdiri bergerak dan berjalan-jalan kemana-mana, karena itu paha dan kaki sudah sepantasnya untuk dongan sabutuha karena dongan sabutuhalah yang membuat kita menjadi anggota masyarakat yang diakui orang dan membuat kita dapat bergerak dan berjalan-jalan kemana-mana dengan bebas, sifat-sifat ini tidak mungkin dipunyai oleh orang yang tidak mempunyai dongan sabutuha .
  • Punggung dan Rusuk-rusuk untuk “Hula-hula”(Famili dari pihak Isteri). Punggung dan rusuk-rusuk menyerupai suatu mahluk yang memeluk dan melindungi yang dipeluknya dan memang punggung dan rusuk itu melakukan yang sedemikian terhadap bagian-bagian badan kita yang berada didalam rongga dada dan perut, oleh karena hula-hula yang selalu menjauhkan mara bahaya, memberikan kita berkat dan doa restu maka sepantasnyalah punggung dan rusuk-rusuk untuk hula-hula.
  • Ihurihur/Upesuhut untuk “Suhut” (tuan rumah). Ihurihur/upesuhut adalah bagian belakang yang mempunyai peranan besar dalam kehidupan suatu makhluk, bagian belakang bertanggung jawab penuh dalam mengeluarkan segala sesuatu yang harus keluar dari badan untuk kesehatan badan itu dan juga untuk perkembangbiakan makhluk itu sendiri. Oleh karena suhut atau tuan rumah bertanggung jawab tentang segala sesuatu dalam upacara adat maka sepantasnyalah ihurihur/upesuhut untuk suhut.

Kemudian jambar jughut dalam adat batak toba dapat dikategorikan menjadi dua bagian yaitu sigagat duhut atau horbo (kerbau), pinahan lobu atau babi.yang kemudian kedua jambar tersebut memiliki arti yang sama.tetapi pelambangan bagi sigagat duhut ataupun kerbau tersebut sangatlah beda dengan pinahan lobu dimana unsur bagian dari pinahan lobu memiliki kekurangan dengan kata lain tidak selengkap sigagat duhut ataupun kerbau. Adapun kelebihan sigagat duhut (kerbau) dalam parjambaran adalah memiliki jambar SOIT, PANAMBOLI, OSANG yang tidak dijumpai pada pembagian jambar pinahan lobu ataupun pinahan lobu (babi). Berdasarkan kelengkapan bagian parjambaran dari sigagat duhut (kerbau) adalah lambang jambar yang mampu melengkapi ataupun memenuhi syarat parjambaran dalam upacara adat batak toba, dan sering dijumpai dalam masyarakat batak toba tidak manggahar adat (memenuhi ketentuan adat) ataupun memiliki hutang adat dikarenakan biaya lebih besar.

Pelambangan kerbau dalam budaya dan adat batak toba sangat beralasan mengingat penjelasan ditas dimana setiap upacara batak toba tulang kepala kerbau tersebut dipajangkan untuk menandakan bahwa pihak yang mengadakan pesta telah melunasi hutang adatnya kepada pihak-pihak yang bersangkutan dengan keluarga tersebut. Adapun contoh yang sering dijumpai pemajangan tulang kepala kerbau tersebut tetap berdasarkan upacara adat yang dilaksanakan baikpun itu memestakan perkampungan, ulaon mangalehon piso, saur matua dan biasanya pemajangan tulang kerbau tersebut di sudut atap rumah adat batak, di Simin/tabbak (pemakaman batak).

Dalam budaya batak toba pemajangan tulang kepala kerbau tersebut dapat digantikan dengan pelambangan seperti figur patung atau ornament yang mewakili tulang kepala kerbau tersebut, seperti yang dijelaskan Nang rizali (2000:32), menjelaskan tentang kebudayaan berkaitan dengan makna, nilai dan simbol. Begitu juga menurut Tjetjep Rohendi Rohidi, (2000:3) menjelaskan tentang kebudayaan berkaitan dengan system simbol, yaitu acuan dan pedoman bagi kehidupan masyarakat dan sebagai sistemsimbol, pemberian makna, model ditransmisikan melalui kode-kode simbolik. Dan begitu juga dengan penciptaan karya patung yang terinspirasi dari symbol-simbol budaya batak toba yang ditampilkan dalam pameran patung kelahiran Siborong-borong tapanuli utara ini, dimana penciptaan karya patung yang berjudul " Searching My Self " dimana konsepnya sangat kental dengan penyimbolan budaya batak yang melekatkan simbol jambar dalam karya patung dengan formnya mix media, Bangun Simatupang seorang sosok yang serius mendalami budaya batak yanng diyakininyaya sebagai landasan dalam tatanan bermasyarakat etnis batak.

Beberapa karyanya adalah :

Judul : Rumah Batak
Media : Kayu
Foto: Doc. www.partoba.gq

Judul : Jambar I
Media : Kayu
Foto : Doc.www.partoba.gq


Judul : Mangalahat Horbo (menyembelih Kerbau)
Media : Mix Media
Foto : Doc. www.partoba.gq
Judul : Horba (kerbau)
Media : Logam
Foto : Doc.www.partoba.gq
Judul : Jambar II
Media : Logam
Foto : Dok.www.partoba.gq

Judul : Jambar III
Media : Logam
Foto : Doc.www.partoba.gq

Judul : Batak
Media : Logam
Foto : www.partoba.gq
Judul : Naga Padoha
Media : Mix Media
Foto : Doc.www.partoba.gq
Perkembangan seni budaya yang bergerak cepat dewasa ini adalah cerminan penciptaan karya-karya tersebut diatas seperti yang dijelaskan dalam Darsono, (2007:65) “setiap karya seni menjadi pangkal eksperimen baru dengan istilah saat ini Seni Media Baru yang menyebabkan ungkapan seni dari kehidupan ketaraf semakin tinggi”sehingga penciptaan karya patung ini merupakan TRANSFORMASI atau penyusunan bentuk yang menekankan pada pencapaian karakter, dengan cara mengubah objek yang sebenarnya dengan berbagai media untuk menciptakan bentuk yang mewakili karakter objek aslinya, dimana sumber yang nyata sekali bagi nilai seni adalah khayalan benda dan peristiwa yang biasanya menimbulkan kenikmatan.dan menurut Hegel keindahan ialah idea yang terwujud didalam indra “Beauty is the idea as it shows itself to sense” maka materi seni tak lain ialah idea, sedang formanya terdapat dalam gambaran indrawi dan khayalinnya. 


Seniman : 






Nama : Bangun Simatupang 
Tempat, Tgl Lahir : Siborongborong, 1 Maret 1983
Pendidikan : S1 Seni Rupa

Pengalaman Pameran : 
  • Pameran Bersama : ' Seni rupa dimana-mana Dimana-mana Seni rupa 2005 
  • Peringatan Hari Air Sedunia 
  • Medan Fair 2007
  • Trio Mata jiwa di Galeri TONDI Medan
  • Cagar Budaya di gedung XL Medan 2008
  • Kasih di galeri TONDI Medan 2008
  • Penutupan Pelatihan OPERA BATAK PLOT SIANTAR 2008
  • Pameran Tunggal ' SEARCHING MY SELF di UNIMED 2009 


demikian artikel ini dibuat semoga bermanfaat, salam Paertoba.gq

0 Response to "Simbolik Budaya Batak dalam Seni Media Baru"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel