Philosofi Arsitektur Rumah Adat Batak Toba

Rumah Adat Batak Toba

Batak Toba salah satu suku di sumatera utara yang tinggal di Pulau Samosir dan sekitaran atau pinggiran Danau Toba dari parapat sampai daerah kitaran tarutungdan Humbang Hasundutan. Mereka tinggal  dengan komunitas yang mantap dan solid dan disebut  Huta atau perkampungan, Perkampungan suku batak toba mengikuti  pola berbanjar dua  gerbangnya dilenkapi dua pintu masuk (bahal) dan bahal tersebut ditempatkan di sisi Utara dan selatan Huta, Dan sisetiap sudut dibuat menara untuk mengintai musuh disebabkan dulunya Orang batak sering berperang antar huta.

Perkampungan ini sampai sekarang masih dapat kita kunjungi  daerah Tomok, Ambarita, silaen, dan Lumban Bolon Parbagasan yang sapamai sekarang banyak di kunjungi wisatawan baik domestik dan manca negara.
Dalam pembangunan arsitektur atau rumah adat Batak toba umumnya dilakukan orang yang semarga dan mereka gotong royong, ideologi orang Batak dalam membuat sebuah Rumah  Tri Tunggal yaitu :
  • Bagian Atas Atap  (Banua Ginjang : Singa dilangit) Tempat Tinggal Para Dewa
  • Bagian Tengah Rumah (Banua Tonga: dunia ) Tempat inggal Manusia
  • Bagian Bawah Kolong (Banua Toru: bawah bumi) Dunia Kematian
Proses Pembangunan  juga harus memlalui prosedur atau syarat, seperti dibawah ini
  • Musyawarah para pengetua
  • Pemilihan lokasi pembangunan
  • Pemilihan bahan bangunan oleshs eorang pande(orang pintar)
  • Secara gotong royong/terjadwal
Rumah adat batak ini dibuat dengan formasi empat persegi dan diberi tiang penopangdan bagian samping bangunan “pandingdingan” yang memiliki bobot yang sangat berat dan diberi istilah “ ndang tartea sahalak parpandingdingan” yang artinya satu orang tidak sanggup menopag dingding rumah ini, sehingga diblik pepatah ini kebersamaan tercipta dan mereka harus gotongroyong untuk saling memikul beban. Setelah itu “pardingdingan digabungkan dengan “parhongkom” menggunakan “hsing-hasing” sebagai alat pemersatu dan dalam hal ini ada pepatah orang Batak “Hot dibatuna jala ransang di sansang-ransangna” yang artinya : Dasar dan landasan sudah dibuat dan kiranya komponen lainnyajuga dapat berdiri kokoh dan dimaknai menunjukkan eksistensi rumah tersebut dalam kehidupan sehari-hari kemudian penghuni rumah tersebut harus saling rangkul merangkul dan memiliki hubungan harmonis bertetangga.

Untuk bagian atas atau “Bungkulan” ditopang oleh “tiang ninggor” agar ninggor dapat terus berdiri tegak dan ditopang oleh “sitindangi” dan penopang yang terletak didepan tiang ninggor dinamai “sijongjongi”  dan buat orang batak Tiang Ninggor selalu diposisikan sebagai simbol kejujuran, karena tiang tersebut posisinya tegak lurus menjulang keatas, dan dalam menegakkan keadilan dan kebenaran selalu ditopang atau dibantu oleh sitindangi dan sijongjongi.

Dibawah Atap bagian depan ada yang disebut “arop-arop” ini merupakan adanya pengharapan bahwa kelak dapat menikmati kehidupan yang layak, dan pengharapan selalu diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa” sebutan ini sebulum Agama masuk ke tanah Batak disebut “Mula Jadi Na Bolon” sebagai Maha Pencipta  dan Khalik Langit dan Bumi yang dalam Bahasa Batak “Si Tompa Hasiangan jala sigomgom parluhutan”

Gorga Batak

Ornament atau hiasan bangunan yang dalam bahasa batak disebut “Gorga” memiliki jenis yang beragam dan untuk membuat gorga biasanya memiliki aturan dan yang membedakan kasta sebab tidak akan sama rumah warga biasa dengan rumah seorang raja walaupun sama-sama memiliki gorga, jenis gorga dapat kita lihat dibawah ini :
  • Gorga ipon-ipon (gigi)
  • Gorga sitompi (perkakas petani)
  • Gorga simataniari (Mata hari)
  • Gorga Desa Naualu ( Delapan Penjuru Mata Angin)
  • Gorga Simarogung-ogung (Gong)
  • Gorga Singa-singa
  • Gorga Jorngom (Setenga Manusia dan setenga Binatang)
  • Gorga Boras Pati dan Adop-adop (Buah Dada)
  • Gorga Ulu Paung ( Kepala Kerbau)

Ornament ini diwarnai dengan tiga warna atau dengan kata lain warna khas Batak Merah, Putih dan Hitam, mari kita simak makna dari warna tersebut

  • Merah “narara” melambangkan kecerdasan dan wawasan yang luas sehingga lahir kebijaksanaan yang diambil dari batu hula
  • Putih “Nabontar” melambangkan kejujuran yang tulus sehingga lahir kesucian dan cat tersebut dibaut dari tnah “tano Buro”
  • Hitam “Nabirong” melambangkan kewibawaan yang melahirkan kepemimpina, dibuat dari tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk halus kemudian dicampur dengan abu periuk atau kuali.
Nah itulah pemahaman tentang Philosofi batak yang terkandung dalam Arsitektur atau rumah adat batak, sebenarnya masih banyak yang belum di utarakan dalam tulisan ini seperti pengertian dan penyimbolan gorga, jenis Rumah Adat Batak, untuk itu untuk sahabat pembaca ditunggu Pos berikut tentang Makna Gorga Batak Toba dan jenis Rumah Adat Batak Toba, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat terimakasih.

0 Response to "Philosofi Arsitektur Rumah Adat Batak Toba"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel